mivo.tv

Sabtu, 22 Juni 2013

proposal laporan akhir BAB I DAN II


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.         Latar Belakang
Tifus Abdominalis dan paratifoid merupakan penyakit infeksi akut usus halus, sinonim dari Tifus Abdominalis adalah typhoid dan paratyphoid fever,  penyakit endemic fever dan paratifus abdominalis. Demam tifoid dan paratifoid endemic di Indonesia. Penyakit ini jarang ditemukan secara epidemik, lebih bersifat sporadic, terpencar- pencar disuatu daerah dan jarang terjadi lebih dari satu kasus pada orang-orang serumah. Di  Indonesia, demam tifoid dan yang lebih sering, carier. Di daerah endemic, transmisi terjadi melalui air yang tercemar S.typhi, sedangkan makanan yang tercemar oleh carier merupakan sumber penularan tersering di daerah nonendemik. Kapita selekta I (Mansjoer, 2001). 
Data World Health Organization (WHO) tahun 2003 memperkirakan terdapat sekitar 17 juta kasus demam tifoid di seluruh dunia dengan insidensi 600.000 kasus kematian tiap tahun. Di negara berkembang, kasus demam tifoid dilaporkan sebagai penyakit endemis dimana 95% merupakan kasus rawat jalan sehingga insidensi yang sebenarnya adalah 15-25 kali lebih besar dari laporan rawat inap di rumah sakit. Di Indonesia kasus ini tersebar secara merata di seluruh propinsi dengan insidensi di daerah pedesaan 358/100.000 penduduk/tahun dan di daerah perkotaan 760/100.000 penduduk/ tahun atau sekitar 600.000 dan 1.5 juta kasus per tahun. Umur penderita yang terkena di Indonesia dilaporkan antara 3-19 tahun pada 91% kasus.
Data yang didapatkan dari Rekam Medik Rumah Sakit Umum Selong, Kabupaten Lombok Timur. Prevalensi penderita Tifus Abdominalis  selama 3 tahun terakhir dengan perincian sebagai berikut: Pada tahun 2009 jumlah penderita sebanyak 679 penderita dengan penderita laki-laki berjumlah 346  orang (51 %), perempuan berjumlah 333 orang (49 %). Angka kematian mencapai 14 orang (2 %). Pada tahun 2010  jumlah penderita sebanyak 861 orang dengan dengan penderita laki-laki berjumlah 485orang (56 %), perempuan berjumlah 376 orang ( 44 %). Angka kematian mencapai 5 (0,5 %) orang. Dan pada tahun 2011 semakin bertambah dengan  jumlah penderita pada tri wulan pertama (Januari-Maret) sebanyak 190 orang dengan penderita laki-laki sebanyak 102 orang (53 %) dan perempuan sebanyak 88 orang (47 %) dengan angka kematian tidak ada. Pada tri wulan kedua (April-Juni) penderita berjumlah 95 orang, dengan penderita laki-laki berjumlah 44 orang (46 %), perempuan berjumlah 51 orang (54%) dengan angka kematian 2 orang (2,1 %) . Pada tri wulan ke tiga (Juli-September) penderita sebanyak 97 orang , dengan penderita laki-laki berjumlah 57 orang (59 %), perempuan berjumlah 40 orang (41 %) dengan angka kematian 1 (1 %) orang (Rekam Medik RSUD Dr. R. Soedjono Selong, 2011.
Thypus Abdominalis (enteryk fever) adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaaan dan gangguan kesadaran. Penyebab dari penyakit ini adalah Basil gram negatif yang bergerak dengan bulu getar dan tidak berspora, mempunyai sekurang-kurangnya 3 macam antigen O (somatik yang terdiri zat kompleks lipopolisakarida), antigen H (flagella), dan antigen Vi. Dalam serum paien terdapat zat anti (aglutinin) terhadap ketiga macam antigen tersebut (Nursalam, 2005).
Untuk itu, penanganan yang tepat sangat diperlukan untuk menurunkan angka morbiditas Thypus Abdominalis Secara garis besar ada  tiga strategi pokok untuk transmisi typus yaitu identifikasi dan eradiksi salmonella typosa baik pada kasus Thypus Abdominalis maupun kasus carier, selain itu transmisi langsung dari pasien terinfeksi salmonella typhi akut maupun carier , dan proteksi pada orang yang berisiko terinfeksi (Sudoyo, Aru W, 2006)

1.2.    Tujuan Penulisan
1.2.1        Tujuan Umum
Penyusun mampu  menerapkan Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Diagnosa Medis Thypus Abdominalis.
1.2.2        Tujuan khusus
Adapun tujuan khusus penulisan Laporan Akhir ini yaitu penyusun mampu:
a.          Menjelaskan konsep dasar penyakit Thypus Abdominalis, mulai dari pengertian, penyebab, patofisiologi/pathways, tanda dan gejala, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan dan komplikasi.
b.         Melakukan pengkajian pada klien dengan diagnosa medis Thypus Abdominalis.
c.          Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan diagnosa medis Thypus Abdominalis.
d.         Menyusun rencana keperawatan pada klien dengan diagnosa medis Thypus Abdominalis.
e.          Melakukan tindakan keperawatan pada klien dengan diagnosa medis Thypus Abdominalis.
f.          Melakukan evaluasi dengan diagnosa medis Thypus Abdominalis.
g.         Mendokumentasikan Asuhan Keperawatan dengan Diagnosa medis Thypus Abominalis.
1.3.Tempat dan Waktu
1.3.1        Tempat
Tempat pengambilan kasus kelolaan direncanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. R. Soedjoeno Selong .
1.3.2        Waktu
Waktu Pengambilan kasus kelolaan di rencanakan pada bulan Februari 2012.


1.4.    Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pemahaman tentang isi Proposal Laporan Akhir ini, penulis menyusunnya dalam dua bab, yaitu:
Bab I adalah pendahuluan berisi tentang latar belakang masalah, tujuan penulisan yang terdiri dari tujuan umum dan tujuan kusus, tempat dan waktu, serta sistematika penulisan.
Bab II adalah tinjauan teori yang menguraikan tentang konsep dasar penyakit yang terdiri dari pengertian, anatomi fisiologi, etiologi, patofisiologi/pathways, tanda dan gejala, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan, komplikasi, dan prognosis serta konsep dasar asuhan keperawatan dengan Tifus Abdominalis  yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, implementasi keperawatan, dan evaluasi keperawatan.
                                                                                                          


BAB II
                                                 TINJAUAN TEORI             


2.1.      Konsep Dasar Penyakit Thypus Abdominalis
2.1.1        Pengertian
Tifus Abdominalis merupakan penyakit infeksi akut usus halus. Sinonim dari tifus Abdominalis adalah tifoid, paratifoid, typhoid dan paratyphoid fever, enteric fever dan paratifus abdominalis (Arif Mansjoer, 2001).
Thypus Abdominalis (enteryk fever) adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaaan dan gangguan kesadaran. Penyebab dari penyakit ini adalah Basil gram negatif yang bergerak dengan bulu getar dan tidak berspora, mempunyai sekurang-kurangnya 3 macam antigen O (somatik yang terdiri zat kompleks lipopolisakarida), antigen H (flagella), dan antigen Vi. Dalam serum paien terdapat zat anti (aglutinin) terhadap ketiga macam antigen tersebut (Nursalam, 2005).
Tifus Abdominalis merupakan penyakit infeksi yang terjadi pada usus halus yang disebabkan oleh Salmonella thypii. Penyakit ini dapat ditularkan melalui makanan, mulut atau minuman yang terkontaminasi oleh kuman Salmonella thypii. (Aziz Alimul, 2006)
6
 
2.1.2        Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan
a.       Anatomi Sistem Pencernaan
 








23n









Gambar 2.1 Anatomi Sistem Pencernaan
(Icon Learning Systems All Rights Reserved. 2003)
Saluran pencernaan makanan secara umum terdiri atas bagian-bagian berikut ini: Mulut, Fharing (tenggorokan), Esophagus (kerongkongan), Ventrikulus/ gaster (lambung), usus halus, usus besar, rektum dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu (Setiadi, 2007)
1)      Oris (Mulut)
Mulut merupakan jalan masuk menuju saluran pencernaan dan  berisi organ aksesoris yang berfungsi dalam proses pencernaan. Secara umum mulut terdiri dari dua bagian, yaitu bagian luar yang sempit (vestibula) yaitu ruang diantara gusi, gigi, bibir dan pipi. Di bagian dalam yaitu bagian rongga mulut yang dibatasi sisinya oleh tulang maksilaris, palatum, dan mandibularis di sebelah belakang bersambunng dengan fharing. Atap mulut dibentuk oleh palatum yang terdiri dari dua bagian, yaitu palatum durum (palatum keras) yang tersusun atas tajuk-tajuk palatum dari sebelah depan tulang maksilaris dan lebih ke belakang terdiri dari 2 tulang palatum.  Palatum mole (palatum lunak) terletak dibelakang yang merupakan lipatan menggantung yang dapat begerak, terdiri atas jaringan fibrosa dan selaput lendir. Sedangkan lidah terletak di lantai dan terikat di tulang hyoid, di garis tengah sebuah lipatan membran mukosa (prenulum linguas) menyambung lidah dengan mulut.
2)      Fharing  (Tenggorokan)
Merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan (osefagus). Di dalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kumpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi.
Jalan udara dan jalan makanan pada faring terjadi penyilangan. Jalan udara masuk kebagian depan terus ke leher bagian depan, sedangkan jalan makanan masuk ke belakang dari jalan nafas dan di depan dari ruas tulang belakang.
3)      Esofagus  (Kerongkongan)
Merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung, panjangnya sekitar 9-25 cm dengan diameter sekitar 2,54 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak di bawah lambung. Esofagus berawal pada area laringofaring melewati diafragma dan hiatus esofagus. Esofagus terletak di belakang trakea dan di depan tulang punggung setelah melalui torak menembus diafragma masuk ke dalam abdomen menyambung dengan lambung.
Fungsi esofagus adalah menggerakkan makanan dari faring ke lambung melalaui gerak pristaltik.
4)      Ventrikulus (Lambung)
Merupaka bagian dari saluran yang dapat mengembang paling banyak terutama di daerah epigaster. Lambung terdiri dari bagian atas fundus uteri berhubungan dengan esofagus melalui orifisium pilorik, terletak di bawah diafragma di depan pankreas dan limpa, menempel di sebalah kiri fundus uteri.
Fungsi lambung antara lain sebagai berikut:
a)      Menampung makanan, menghancurkan dan menghaluskan makanan oleh peristaltik lambung dan getah lambung.
b)      Produksi kimus, aktifitas lambung mengakibatkan terbentuknya kimus (masa homogen setengah cair, berkadar asam tinggi yang berasal dari bolus) dan mendorongnya ke dalam duodenum.
c)      Digesti protein, lambung memulai digesti protein melelui sekresi tripsin dan asam klorida.
d)     Produksi mucus, mucus yang dihasilkan dari kelenjar membentuk barier setebal 1 mm untuk melindungi lambung terhadap aksi pencernaan dari sekresinya sendiri.
e)      Produksi faktor instrinsik, yaitu glikoprotein yang disekresi sel parietal dan vitamin B12 yang didapat dari makanan yang dicerna di lambung yang terikat pada faktor instrinsik.
f)       Absorbsi,di lambung hanya terjadi absorbsi nutrient sedikit. Beberapa zat yang diabsorpsi antara lain adalah beberapa obat yang larut lemak (aspirin) dan alkohol diabsorbsi pada dinding lambung serta zat yang larut dalam air terabsorbsi dalam jumlah yang tidak jelas.
5)      Intestinum minor (Usus Halus)
Merupakan saluran pencernaan diantara lambung dan usus besar, yang merupakan tuba terlilit yang merentang dari sfingter pylorus sampai katup ileosekal, tempatnya menyatu dengan usus besar.
1.      Susunan usus halus yaitu:
a)    Duodenum
Organ ini disebut juga usus 12 jari panjangnya 25 – 30 cm berbentuk sepatu kuda melengkung ke kiri pada lengkungan ini terdapat pancreas yang menghasilkan amilase yang berfungsi mencerna hidrat arang menjadi disakarida. Duodenum merupakan bagian yang terpendek dari usus halus.

b)   Yeyenum
Adalah bagian kelanjutan dari duodenum yang panjangnya kurang lebih 1-1,5 m.
c)    Ileum
Ileum merentang sampai menyatu dengan usus besar dengan panjang 2-2,5 m. Lekukan  yeyenum dan ileum melekat pada didnding abdomen posterior dengan perantaraan lipatan peritonium yang berbentuk kipas dikenal sebagai mesenterium.
2.      Gerakan Usus Halus
Pergerakan usus halus dipicu oleh peregangan dan secara reflek dikendalikan oleh sitem syaraf otak. Gerakan usus halus antar lain:
a)      Segmentasi irama yaitu pergerakan percampuran utama dengan mencampur kimus dengan cairan pencernaan dan memaparkannya kepermukaan absorbtif.
b)      Peristalsis, yaitu kontraksi ritmis otot  polos  longitudinal dan sirkuler yang mendorong dan menggerakkan kimus kearah bawah disepanjang saluran
c)      Gerakan pendulum/ayunan, menyebabkan isi usus bercampur
3.      Fungsi Usus Halus
a)      Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapiler-kapiler darah dan saluran-saluran limfe dengan proses sebagai berikut:
-          Menyerap protein dalam bentuk asam amino
-          Karbohidrat diserap dalam bentuk monosakarida
b)      Secara selektif mengabsorbsi produk digesti dan juga air, garam dan vitamin.
6)      Hepar ( Hati)
Merupakan organ yang paling besar di dalam organ tubuh kita, warnanya coklat dan beratnya 1500 gr. letaknya dibagian atas dalam rongga abdomen disebelah kanan  bawah diafragma. Hepar terletak di kuadran kanan atas abdomen, di bawah diafragma dan terlindung oleh tulang rusuk, sehingga dalam keadaan normal hepar yang sehat tidak bisa teraba.
Fungsi hati adalah sebagai berikut:
a)      Sekresi
Hati memproduksi empedu dibentuk dalam sistem retikulo endotelium yang dialirkan ke empedu yang berperan dalam emulsifikasi dan absorpsi lemak. Menghasilkan enzim glikogenik yang mengubah glukosa menjadi glikogen.

b)      Metabolisme
Hati berperan serta dalam mempertahankan hemostatik gula darah, Menyimpan glukosa dalam bentuk glikogen dan mengubahnya kembali menjadi glukosa jika diperlukan tubuh, mengurai protein dari sel-sel  tubuh dan sel darah merah yang rusak dan hasil penguraian protein menghasilkan urea dari asam amino berlebih dan sisa nitrogen. Hati menerima asam amino diubah menjadi ureum dikeluarkan dari darah oleh ginjal dalam bentuk urin dan mensintesis lemak dari karbohidrat dan protein.
c)      Penyimpanan
Hati menyimpan glikogen, lemak, vitamin A,D,E,K, dan zat besi yang disimpan sebagai feritin yaitu suatu protein yang mengandung zat besi dan dapat dilepaskan bila zat besi diperlukan dan mengubah zat makanan yang diabsorbsi dari usus dan disimpan di suatu tempat dalam tubuh, dikeluarkannya sesuai dengan pemakaiannya dalam jaringan.
d)     Detoksifikasi
Mengubah zat buangan dan bahan racun untuk dieksresi dalam empedu dan urin.
e)      Membentuk dan menghancurkan sel-sel darah merah selama 6 bulan masa kehidupan fetus yang kemudian diambil oleh sum-sum tulang belakang.
7)      Kandung Empedu
Merupakan sebuah kantong berbentuk ternang dan merupakan membrane berotot, letaknya dalam sebuah lobus disebelah permukaan bawah hati sampai pinggir depannya, panjangnya 8-12 cm berisi 60 cm3.
Fungsi kandung empedu yaitu:
a)      Sebagai persediaan getah empedu dan membuat gatah empedu menjadi kental.
b)      Getah empedu adalah cairan yang dihasilkan  oeh sel-sel hati, jumlah setiap hari dari setiap orang dikeluarkan 500-1000 ml  sehari yang digunakan untuk mencerna lemak 80% dari getah empedu pigmen, insulin dan zat lainnya
8)      Pankreas
Merupakan kelenjar terelongasi berukuran besar di balik kurvatur besar lambung. Fungsi pankreas  dibagi menjadi dua yaitu:
a)      Fungsi eksokrini, yang membentuk getah pankreas yang berisi enzim-enzim pencernaan dan larutan berair yang mengandung ion bikarbonat dalam kosentrasi tinggi.
b)      Fungsi endokrin (pulau langerhans), sekelompok kecil sel epitelium yang berbentuk pulau-pulau kecil atau kepulauan langerhans, yang bersama-sama membentuk organ endokrin yang mensekresi insulin dan glukagon yang langsung dialirkan ke dalam peredaran darah dibawa ke jaringan tanpa melewati duktus untuk membantu metabolisme karbohidrat.
(Setiadi, 2007)
9)      Intestinum mayor (Usus Besar)
 Panjangnya ± 1,5 m, lebarnya 5-6 cm. lapisan-lapisan usus besar dari dalam ke luar adalah selaput lendir, lapisan otot melingkar, lapipsan otot memanjang dan jaringan ikat.
1.      Fungsi usus besar:
a)      Menyerap air dari makanan.
b)      Tempat tinggal bekteri koli.
c)      Tempat feses.
2.      Usus Besar Terdiri Dari Beberapa Bagian:
a)      Sekum
Di bawah sekum terdapat apendiks vermiformis yang berbentuk seperti cacing sehingga disebut juga umbai cacing, panjangnya 6 cm.


b)      Kolon Asendens
Panjangnya 13 cm, terletak di bawah abdomen sebelah kanan, membujur ke atas dari ileum kebawah hati.
c)      Apendiks (usus buntu)
Bagian dari usus besar yang muncul seperti corongdari ujung sekum, mempunyai pintu keluar yang sempit tetapi masih memungkinkan dapat dilewati oleh beberapa isi usus.
d)     Kolon transversum
Panjangnya kurang lebih 38 cm, membujur dari kolon asendens sampai ke kolon desendens berada di bawah abdomen, sebelah kanan terdapat  fleksura hapatika dan sebelah kiri terdapat fleksura lienalis.
e)      Kolon desendens
Panjangnya kurang lebih 25 cm, terletak di bawah abdomen bagian kiri membujur dari atas ke bawah dan fleksura linealis sampai ke depan ileum kiri, bersambung dengan kolon sigmoid.
f)       Kolon sigmoid
Merupakan lanjutan dari kolon desendens, terlertak miring dalam rongga pelvis sebelah kiri bentuknya menyerupai huruf S, ujung bawahnya berhubungan dengan rektum.
10)   Rektum
Terletak di bawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus, terletak dalam rongga pelvis di depan os sakrum dan os koksigis .
11)   Anus
Bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rectum dengan dunia luar ( udara luar).
( Syaifuddin,2006)
b.      Fisiologi Pencernaan
Jumlah makanan yang dicerna seseorang dan jenisnya adalah tergantung dari kemauan dan seleranya. Mekanisme ini ada dalam tubuh seseorang dan merupakan sistem pengaturan yang otomatis.
Makanan masuk melalui mulut kemudian dikunyah oleh gigi, gigi anterior (insivisus) menyediakan kerja memotong yang kuat dan gigi posterior (molar) kerja menggiling. Semua otot rahang yang bekerja dengan bersama-sama dapat mengatupkan gigi dengan kekuatan sebesar 55 pound pada insivisus dan 200 poun pada molar.
Setelah itu makanan ditelan, menelan merupakan mekanisme yang kompleks, terutama faring yang hampir setiap saat melakukan fungsi lain disamping menelan makanan dan hanya diubah dalam beberapa detik dalam traktus untuk mendorong makanan,
Esophagus terutama berfungsi untuk menyalurkan makanan dari faring ke lambung dan gerakan diatur secara khusus untuk melakukan fungsi tersebut.
Fungsi lambung ada tiga, yaitu penyimpanan sejumlah besar makanan sampai makanan dapat diproses di dalam duodenum, pencampuran makanan ini dengan sekresi setengah cair yang disebut dengan kimus. Pengosongan makanan dengan lambat dari lambung ke usus halus pada kecepatan yang sesuai untuk pencernaan dan absorpsi yang tepat oleh usus halus.
Makanan akan digerakkan dengan melakukan gerakan peristaltik. Peristaltik usus yang normal adalah 12 kali permenit. Makanan kemudian akan didorong ke usus besar dan akan di absorpsi baik air, elektrolit, dan penimbunan bahan feses di rektum sampai dapat dikeluarkan melalui anus melalui proses defekasi.

2.1.3        Etiologi
Penyebab dari tifus abdominalis adalah salmonella paratyphi A, salmonella paratyphi B dan salmonella paratyphi C. (Sarwono Waspadji dkk.)
2.1.4        Patofisiologi
Kuman salmonella masuk bersama makanan/minuman yang terkontaminasi, setelah berada dalam usus halus kuman tersebut menginvasi ke jaringan limfoid usus halus (terutama plak peyer) dan jaringan limfoid mesentrika. Setelah menyebabkan peradangan dan nekrosis setempat, kuman lewat pembuluh limfe masuk ke darah (bakteremia primer) menuju organ retikuloendotelial sistem (RES) terutama hati dan limfe. Di tempat ini kuman- kuman dipagosit oleh sel- sel pagosit retikuloendotelial system (RES) dan kuman yang tidak dapat dipagosit akan berkembang biak. Pada akhir masa inkubasi 5-9 hari, kuman kembali masuk ke darah dan menyebar ke seluruh tubuh (bakteremia skunder) dan sebagian kuman masuk ke organ tubuh terutama limfa, kanding empedu, dan selanjutnya kuman tersebut akan dikeluarkan kembali dari kantung empedu ke rongga usus dan menyebabkan reinfeksi usus. Dalam masa bakterimia ini kuman akan mengeluarkan endotoksin, endotoksin ini merangsang sintesa dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang. Selanjutnya zat pirogen yang beredar didarah akan mempengaruhi pusat termoregulator di hipothalamus yang mngakibatkan timbulnya gejala demam (Suriadi, 2001).
Makrofag pada pasien akan menghasilkan substansi aktif yang disebut monokines yang  menyebabkan nekrosis seluler dan merangsang imun sistem,instabilitas vaskuler,depresi sumsum tulang dan panas. Infiltrasi jaringan oleh magropag yang mengandung eritrosit,kuman,limposit sudah berdegenesasi yang di kenal sebagai thypoid sel. Bila sel ini beragregasi maka terbentuk nodul terutama dalam usus halus, jaringan limfe mesemterium, limpa, hati, sumsum tulang dan organ yang terinfeksi (Arif Mansjoer, 2001).
Kelainan utama yang terjadi di ileum terminale dan plak peyer yang hiperplasia (minggu 1), nekrosis (minggu II), dan ulserasi (minggu III). Pada dinding ileum terjadi ulkus yang dapat menyebabkan perdarahan dan perforasi intestinal. Bisa sembuh tanpa adanya pembentukan jaringan parut .
Basil yang masuk ke dalam darah (bakteriemia) dan menyebar ke seluruh tubuh terutama kelenjar limfoit usus halus menimbulkan tukak berbentuk lonjong pada mukosa di atas plak Pleyer. Tukak tersebut dapat menyebabkan perdarahan dan perforasi usus. (Nursalam, 2002).








Pathways

 Infasi kuman salmonella typhosa


     Mulut

    
        Lambung


      Usus
 



            RES                  Mempengaruhi                  Mual muntah        Perporasi
    (Limpa, Hati)        system  saraf pagus                                          
 

Resiko devisit volume cairan
                                                                                                       Pelepasan cairan
       Pelepasan                  Anoreksia                                             hasil peradangan
      zat pirogen                                                                               (exsudat) dalam
Resiko ketidakseimbangan nutrisi
                                                                                                        rongga-srongga
                                                                                                              abdomen
       Penigkatan
 Kerja Hipotalamus               
Gangguan pada defekasi
(Diare)


                                                  Absorpsi makanan
     Hipertermi                                   Menurun                                              
                                                                                                                
Konstipasi
                                                      
                                                                               

             
                             Gambar 2.2 Patway Thypus Abdominalis
http://nursingbegin.com/askep-tifus-abdominalis/.


2.1.5        Tanda dan Gejala
Gejala yang timbul bervariasi. Dalam minggu pertama, keluhan dan gejala sama dengan penyakit akut pada umumnya, yaitu demam, nyeri kepala, pusing nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan penigkatan suhu badan. Dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam, bradikardi relatife, lidah tifoid (kotor di tengah, tepi dan ujung merah dan tremor), hepatomegali, splenomegali, meteorismus, gangguan kesadaran berupa somnolen sampai koma (Arif Mansjoer, 2001).
Tanda dan gejala klinis yang sering dijumpai pada penderita demam tifoid yaitu:
a.       Demam
Pada kasus yang khas demam berlangsung selama 3 minggu, bersifat febris remiten dan suhu tidak tinggi sekali. Selama minggu petama, suhu tubuh berangsur-angsur naik setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Dalam minggu kedua pasien terus berada dalam keadaan demam, pada minggu ketiga suhu berangsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga.


b.      Gangguan Pada Saluran Cerna
Pada mulut  terdapat nafas berbau tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah. Lidah tertutup selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan tepinya kemerahan, jarang disertai tremor. Pada abdomen dapat ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus). Hati dan limpa membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya sering terjadi konstipasi tetapi juga dapat diare atau normal.
c.       Gangguan Kesadaran
Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak dalam yaitu apatis sampai somnolen, jarang terjadi sopor, koma atau gelisah (kecuali penyakitnya berat dan terlambat mendapat pengobatan). Di samping gejala tersebut mungkin terdapat gejalalainnya. Pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan bintik-bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit yang dapat ditemukan pada minggu pertama demam.kadang-kadang ditemukan pula bradikardi dan epistaksis pada anak besar.





2.1.6        Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosa medis Tifus Abdominalis antara lain (Ngastiyah, 2005):
a.       Darah tepi
Pada pemeriksaan darah tepi terdapat gambaran leukopnea, limpositosis relative, dan aneosinofilia pada permulaan sakit.mungkin terdapat anemia dan trombositopenia ringan.
b.      Darah untuk kultur (biakan empedu) dan widal.
Pemeriksaan perlu dikerjakan pada waktu masuk dan setiap minggu berikutnya. (diperlukan darah vena sebanyak 5cc untuk kultur/ widal). Biakan empedu basil salmonella typhosa dapat ditemukan dalam darah pasien pada minggu pertama sakit, selanjutnya ditemukan dalam urine dan feses.
c.       Pemeriksaan widal
Uji widal di lakukan untuk deteksi antibodi terhadap kuman S typhi. Pada uji widal terjadi suatu reaksi aglutinasi antara antigen kuman S. typhi dengan antibodi yang disebut aglutinin. Antigen yang digunakanpada uji widal adalah suspensi Salmonelle yang sudah dimatikan dan di olah di laboratorium. Maksud uji Widal adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita tersangka demam tifoid yaitu ;
1)     Aglutin in O ( dari tubuh kuman )
2)     Aglutinin H ( flagela kuman )
3)     Aglutinin Vi ( simpai kuman )
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang digunakan untuk diagnosis demam tifoid. Semakin tinggi titernya semakin besar kemungkinan terinfeksi kuman.
Pembentukan aglutinin mulai terjadi pada akhir minggu pertama demam, kemudian meningkat secara cepat dan mencapai puncak pada minggu ke-empat, dan tetap tinggi selama beberapa minggu. Pada fase akut mula-mula timbul aglutinin O, kemudian diikuti dengan aglutinin H. Pada orang yang telah sembuh aglutinin O masih tetap di jumpai setelah 4-6 bulan, sedangkan aglutinin H menetap lebih lama antara 9-12 bulan. Oleh karena itu uji Widal bukan untuk menetukan kesembuhan penyakit.
Kadar aglutinin O dan H pada orang normal di daerah endemis yaitu 1/160, sehingga kadar aglutinin yang mempunyai diagnostik thypus abdominalis adalah 1/320,sedangakan di daerah nonendemis pemeriksaan titer anti bodi O tunggal > 1/40. pemeriksaan titer H tunggal mempunyai sensitifitas yang serupa tetapi spesivitasnya lebih rendah. Aglutinin H sering kali meningkat secara tidak khas karena imunisasi atau infeksi sebelumnya dengan bakteri lain.
2.1.7        Penatalaksanaan
Sampai saat ini masih dianut trilogi penatalaksanaan Tyfus Abdominalis, yatu:
a.       Pemberian antibiotik untuk menghentikan dan memusnahkan penyebaran kuman. Antibiotik yang dapat digunakan:
1)      Kloramfenikol ; dosis hari pertama 4 x 250 mg, hari kedua 4 x 500 mg. diberikan selama demam dilanjutkan sapai 2 hari bebas demam, kemudian dosis diturunkan menjadi 4 x 250 mg selama 5 hari.
2)      Ampisilin/ Amoksilin ; dosis 50-150 mg/kgBB, diberikan selama 2 minggu.
3)      Kotrimoksazol 2 x 2 tablet , diberikan selama 2 minggu pula.
4)      Sefalosporin generasi II dan III. Di Sub bagian Penyakit Tropik dan Infeksi FKUI-RSCM, pemberian sefalosporin berhasil mengatasi tyfus abdominalis
(demam tifoid) dengan baik. Demam pada umumnya mengalami mereda pada hari ke-3 atau menjelang hari ke-4. Regimen yang dipakai adalah:
-          Setriakson 4 g/hari selama 3 hari.
-          Norfloksasin 2 x 400 mg/hari selama 14 hari.
-          Siprofloksasin 2 x 500mg/hari selama 6 hari.
-          Ofloksasin 600 mg/hari selama 7 hari.
-          Pefloksasin 400 mg/hari selama 7 hari.
-          Fleroksasin 400 mg/hari selama 7 hari
b.      Istirahat dan perawatan profesional ; bertujuan mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan. Pasien harus tirah baring absolute sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari. Mobilisasi dilakukan betahap. Sesui dengan pulihnya kekuatan pasien. Dalam perawatan perlu sekali dijaga higiene perseorangan, kebersihan tempat tidur, pakaian dan peralatan yang dipakai oleh pasien. Pasien dengan kesadaran menurun, posisinya perlu diubah-ubah untuk mencegah dekubitus. Defekasi dan buang air kecil perlu diperhatikan karena kadang – kadang terjadi obstipasi dan retensi urin.
c.       Diet dan terapi penunjang (simtomatis dan suportif) .
Pertama pasien diberi diet bubur  saring, kemudian bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai tingkat kesembuhan pasien. Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan padat dini, yaitu nasi dengan lauk pauk rendah selulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan dengan aman. Juga diperhatikan pemberian vitaimin dan mineral yang cukup untuk mendukung keadaan umum pasien. Di harapkan dengan menjaga keseimbangan dan homeostasis. Sistem imun akan tetap berfungsi dengan optimal.
(Arif Mansjoer, 2001)
2.1.8        Komplikasi
Komplikasi yang sering adalah pada usus halus, namun hal tersebut jarang terjadi. Gangguan pada usus halus ini dapt berupa (Nursalam, 2005):
a.       Perdarahan usus
Apabila sedikit maka perdarahan tersebut hanya ditemukan jika dilakukan pemeriksaan tinja dengan benzidin. Jika perdarahan banyak maka akan terjadi melena, yang bisa disertai nyeri perut dengan tanda-tanda renjatan. Perforasi usus biasnya terjadi pada minggu ketiga.
b.      Perforasi
Perforasi yang tidak disertai peritonitis hanya dapat ditemukan bila terdapat udara di rongga peritoneum, yaitu pekak hati menghilang dan terdapat udara diantara hati dan diafragma pada foto rontegen abdomen yang dibuat dalam keadaan tegak.
c.       Peritonitis
Peritonitis biasanya menyertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa perforasi usus. Ditemukan gejala abdomen akut yaitu nyeri perut yang hebat, dinding abdomen tegang dan nyeri tekan.
d.      Komplikasi di luar usus
Terjadi karena lokalisasi peradangan akibat spesies bakterimia yaitu meningitis, kolesistisis, ensetelopati, dan lain-lain. Komplikasi di luar usus ini terjadi karena inspeksi sekunder bronkopneumonnia.

2.2.      Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Diagnosa Medis Tifus  Abdominalis
Proses keperawatan terdiri dari lima tahapan, yaitu: pengakajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi (Ali Zaidin 2002).
Proses keperawatan adalah suatu metode dimana suatu konsep ditetapkan dalam praktek keperawatan (Nursalam, 2001).
Langkah-langkah dalam penerapan asuhan keperawatan meliputi: Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Rencana tindakan, Tindakan keperawatan, dan Evaluasi keperawatan (Nursalam, 2001).
2.2.1.      Pengkajian
Pengkajian adalah upaya mengumpulkan data secara  lengkap dan sistematis untuk dikaji  dan dianalisis sehingga masalah kesehatan yang dan keperawatan yang dihadapi klien baik fisik, mental, sosial, maupun spiritual dapat ditentukan. (Zaidin Ali, 2002). 
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien. Tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu. Oleh karena itu, pengkajian yang akurat, lengkap, sesuai dengan kenyataan, kebenaran data sangat penting dalam merumuskan suatu diagnosa keperawatan dan memberikan pelayanan keperawatan sesuai dengan respon individu. (Nursalam, 2001).
Komponen tahap pengkajian adalah pengumpulan data, validasi data dan identifikasi pola atau divisi.
a.         Pengumpulan Data
1)        Identitas
a)    Identitas klien
Nama, umur, status perkawinan, suku/ bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, tanggal masuk rumah sakit, jam masuk, nomor register.
b)   Identitas penanggung jawab
Nama, umur, alamat, suku/ bangsa dan hubungan dangan klien
2)        Keluhan Utama
Keluhan utama pada klien dengan Thypus Abdominalis adalah demam pada malam hari dan turun pada pagi hari, demam ini diikuti oleh gejala subyektif mirip dengan penyakit infeksi pada umumnya yaitu malaise, sakit kepala, tidak ada nafsu makan (anoreksia), mual-mual dan muntah. Keluhan utama lainnya berupa gangguan pencernaan.
3)        Riwayat Penyakit Sekarang
Dimana berlangsung tiga minggu, bersifat febris remiten dan suhu tidak tinggi sekali. Selama minggu pertama suhu tubuh berangsur naik setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat pada sore hari, dan malam hari pada minggu kedua terus berada dalam keadaan demam serta berangsur turun dan normal pada hari minggu ketiga. Pada mulut berbau tidak sedap. Bibir kering dan pecah-pecah, lidah tertutup selaput putih kotor (coateque) ujung dan tepi lidah hiperemis, perut kembung, hati dan limpa membesar disertai nyeri pada perabaan, konstipasi dan kadang-kadang diare, kesadaran klien menurun yaitu apatis sampai somnolen, pada punggung dan anggota gerak sering terjadi bintik-bintik pada kulit, bradikradi dan epitaksis pada klien.
4)        Riwayat Penyakit Dahulu
Menyangkut penyakit yang pernah diderita sebagai predisposisi terjadinya Thypus Abdominalis seperti yang pernah menderita penyakit yang sama.
5)        Riwayat Penyakit Keluarga
Mengidentifikasi keluarga yang pernah menderita demam thypoid (sebagai pembawa kuman/carrier).

6)        Pola Kebiasaan Sehari-hari
Meliputi informasi mengenai perilaku, perasaan dan emosi yang dialami oleh penderita sehubungan dengan penyakitnya serta tanggapan keluarga terhadap penyakit penderita.
7)        Riwayat kesehatan lingkungan
Dijumpai di daerah dengan kualitas sumber air yang tidak memadai dengan standar higiene dan sanitasi yang rendah, keadaan penduduk  yang padat, juga pengolahan makanan yang masih rendah.
8)        Riwayat psikososial
Meliputi informasi mengenai prilaku, perasaan dan emosi yang dialami penderita sehubungan dengan penyakitnya serta tanggapan keluarga terhadap penyakitnya tersebut.
9)        Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan persistem (Body Of System) pada pasien Tifus Abdominalis yaitu:
a)      B1 (Breating)
Yang terdapat adalah sesak nafas, batuk, seputum, nyeri dada. Pada Tifus Abdominalis frekuensi pernafasan meningkat

b)      B2 (Blood)
Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau berkurang, hipotensi, aritmia, kardiomegali, bradikardi.. Pada Tifus abdominalis  terjadi takikardi, hepatomegali.
c)      B3 (Brain)
Terjadi penurunan sensori, mengantuk, kacau mental disorientaasi ,. Meliputi keadaan penderita, kesadaran menurun (delirium).
d)     B4 (Bledder)
Oliguria, anuria, retensi urin, inkontinensia urine, rasa sakit atau panas saat berkemih.
e)      B5 (Bowel)
Perubahan berat badan, peningkatan lingkar abdomen, obesitas, nyeri epigastrium
f)       B6 (Bone)
-          Ekstremitas atas: tidak terdapat kelainan baik pada tangan kanan/kiri dan tidak ada oedema
-          Ekstremitas bawah: tidak ada kelainan pada kaki kanan/kiri dan tidak oedema



10)    Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan, yaitu:
(Nursalam, 2005).
a)      Pada pemeriksaan darah tepi terdapat gambaran leucopenia, limpositosis relative, dan anepsinofilia pada permukaan sakit.
b)      Darah untuk kultur (biakan, empedu) dan widal
c)      Biakan empedu hasil salmonella thyposa dapat ditemukan dalam darah pasien pada minggu pertama sakit. Selanjutnya lebih sering ditemukan dalam urine dan feces.
d)     Periksaan widal untuk membuat diagnosis, pemeriksaan yang diperlukan adalah titer zat anti terhadap antigen O. titer yang bernilai 1/200 atau lebih menunjukkan kenaikan progresif.
2.2.2.       Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah, dan merubah (Nursalam, 2001).
Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinik tentang individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan, aktual atau potensial, sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan kewenangan perawat (Nursalam, 2001).
Adapun diagnosa yang muncul pada klien dengan thypus abdominalis adalah sebagai berikut (Nanda, 2007).
1.      Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi salmonella typhosa.
2.      Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pemasukan yang kurang, mual, muntah /pengeluaran yang berlebihan, diare, panas tubuh.
3.      Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake kurang akibat mual, muntah, anoreksia, atau output yang berlebihan akibat diare.
4.      Gangguan pada  defekasi: diare berhubungan dengan peradangan pada dinding usus halus.
5.      Perubahan pola defekasi: konstipai berhubungan dengan proses peradangan pada  dinding usus halus.




2.2.3.      Rencana Keperawatan
Rencana tindakan keperawatan adalah suatu dokumen tulisan tangan menyelesaikan masalah, tujuan dan intervensi. Perencanaan meliputi, pngembangan strategis desain untuk mencegah mengurangi atau mengoreksi masalah yang diidentifikasi pada diagnosa keperawatan. Tahap ini di mulai setelah menentukan diagnosa keperawatan dan menyimpulkan rencana dokumentasi (Nursalam, 2005).
Menurut Zaidin Ali 2010 dalam merumuskan tujuan, perencanaan harus memperhatikan kriteria sebagai berikut:
1)      Specific yakni lebih spesifik sehingga pembaca mempunyai persiapan yang sama.
2)      Measurerable yakni dapat diukur  kemajuannya (terukur)
3)      Appropriate (sesuai dengan strategi yang diatasnya) umpamanya sesuai dengan tujuan institusi, tujuan program dan tujuan nasional san sebagainya.
4)      Realistic yakni rencana tersebut dapat dilaksanakan sesuai dengan kemampuan organisasi.
5)      Time bound yakni sesuai dengan target waktu yang telah ditentukan.
Kelima kriteria ini disebut SMART (Spesific, Measurable, Appropriate, Realistic, and Time bound)

Table 2.1  Rencana Tindakan Keperawatan

No
Diagnosa Keperawatan
Rencana Tindakan
Tujuan dan Kritera Hasil
Rencana
Rasional
1
2
3
4
            5
1
Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi salmonella typhosa



Setelah dilakukan tindakan keperawatan ± 24 jam, diharapkan suhu tubuh kembali normal dengan kriteria hasil:
1.   Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5o c -  37, 5 o c)
2.   Nadi dan RR dalam rentang normal.
Nadi (60 – 100 x/ menit)
RR (12 -24 x/ menit)
3.   Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing, merasa nyaman.

1.    Monitor suhu minimal tiap 2 jam









2.    Kompres dingin pasien pada lipatan paha dan  aksila

3.    Berikan cairan intravena



4.    Berikan antipiretik, jangan berikan aspirin



5.    Monitor tanda-tanda hipertermi dan hipotermi


6.    Anjurkan memakai baju yang tipis yang menyerap keringat

1.   Monitor tanda-tanda vital merupakan deteksi dini untuk mengetahui komplikasi yang terjadi sehingga cepat mengambil tindakan

2.   Merangsang penurunan suhu tubuh


3.   Mengembalikan cairan tubuh yang keluar akibat evavorasi

4.   Aspirin beresiko menimbulkan perdarahan gastro intestinal yang menetap

5.   Suhu tubuh yang meningkat dapat menyebabkan febris dan ensopaliti

6.   Baju yang tipis akan mudah menyerap keringat yang keluar




1
2
3
4
            5
2











Resiko devisit volume cairan berhubungan dengan pemasukan yang kurang, mual, muntah/pengeluaran yang berlebihan, diare, panas tubuh







Setelah dilakukan tindakan keperawatan ± 24 jam, diharapkan cairan tubuh klien kembali normal dengan kriteria hasil:
1.    Keluaran urine adekuat dengan berat jenis normal (1,010)
2.     TD normal
(sistol  90 – 140 mmHg, diastol 60 – 90 mmHg), suhu tubuh normal (36, 5 o c – 37,5 o c)
Nadi (60 – 100 x/ menit)
3.     tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab tidak ada rasa haus yang berlebihan

1.    Monitor vital sign


2.    Monitor masukan makanan/ cairan dan hitung intake kalori harian setiap 6 jam



3.    Kolaborasi dalam pemberian cairan intravena

4.    Dorong keluarga untuk membantu pasien makan

5.    Lakukan kebersihan mulut sebelum makan
1.    Indikator ketidak adekuatan volume sirkulasi

2.    Pemenuhan cairan (input) dan koreksi terhadap kekurangan cairan yang keluar serta deteksi dini terhadap keseimbangan cairan

3.    Tindakan darurat untuk memperbaiki ketidak seimbangan cairan dan elektrolit


4.    Mempertahankan status nutrisi pasien




5.    Meningkatkan nafsu makan klien
3
Resiko ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuahn tubuh berhubungan dengan intake kurang akibat mual, muntah, anoreksia, atau output yang berlebihan akibat diare
Setelah dilakukan tindakan keperawatan  ± 24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi klien terpenuhi dengan kriteria hasil:
1.    Adanya penigkatan berat badan sesuai dengan tujua, rumus penghitungan berat badan normal
(TB – 100) – 10 % (TB – 100)
2.    Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan.

1.    Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan

2.    Kaji adanya alergi makanan



3.    Monitor tipe dan jumlah aktifitas yang biasa dilakukan

4.    Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori

1.    Perbaikan stastus nutrisi meningkatkan kemampuan berfikir dan kerja psikologis

2.    Alergi makanan dapat mempengaruhi stasus nutrisi pasien

3.    Latihan/ latihan sedang membantu mempertahankan tonus otot/ berat badan dan melawan depresi

4.    Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit

1
2
3
4
            5


3.    Mampu  mengidentifikasi kebutuhan nutrisi.
4.    Tidak ada tanda-tanda malnutrisi.
5.    Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti.
5.    Monitor pusat kemerahan dan kekuringan jaringan konjungtiva

6.    Monitor mual dan muntah.
5.    Konjungtiva merupakan salah satu lokasi penentuan pusat dehidrasi

6.    Meyakinkan keseimbangan antara intake dan output

4












Gangguan pada defeksi: diare berhubungan dengan peradangan pada usus halus.









Setelah dilakukan tindakan keperawatan
 ± 24 jam diharapkan diare teratasi dengan kriteria hasil:
1.    BAB tiga kali   sehari
2.    Manjaga daerah rektal
3.    dari iritasi.
4.    Tidak mengalami diare.
5.    Menjelaskan penyebab diare dan rasional tindakan.
6.    Mempertahankan turgor kulit.

1.       Ajarkan pasien untuk menggunakan obat anti diare
2.       Instruksikan pasien/ keluarga untuk mencatat warna, jumlah frekwensi, dan konsistensi feses

3.       Instruksikan pasien untuk makan makanan rendah serat, tinggi protein dan tinggi kalori jika memungkinkan

4.       Ukur diare dan keluaran BAB

5.       Observasi turgor kulit secara rutin

6.       Monitor tanda dan gejala diare
1.       Menurunkan motalitas/ peristaltik gaster intestinal

2.       Membantu mengkaji beratnya penyakit  yang diderita pasien








3.       Menghindarkan iritan dan meningkatkan istirahat usus







4.       Menggantikan cairan yang hilang


5.       Mengetahui derajat  dehidrasi


6.       Menentukan seberapa jauh penanganan diare



1
2
3
4
            5
5
Perubahan pola defekasi: konstipasi berhubungan dengan proses peradangan pada dinding usus halus

Setelah dilakukan tindakan keperawatan  ± 24 jam diharapkan konstipasi teratasi dengan kriteria hasil:
1.    Mempertahankan bentuk feses lunak setiap 1-3 hari.
2.    Bebas dari ketidak nyamanan dari konstipasi.
3.    Mengidentifikasi indikator untuk mencegah konstipasi.
1.       Monitor feses, frekwensi, konsistensi dan volume

2.       Dukung intake cairan

3.       Jelaskan etiologi dan rasionalisasi tindakan terhadap pasien

4.       Identifikasi faktor penyebab  dan konstribusi konstipasi

5.       Berikan makanan tinggi serat dan hindari makanan yang banyak mengandung gas dengan konsultasi bagian gizi

6.       Kolaborasi kan pemberian laktasi
1.    Mendeteksi  adanya darah dalam feses




2.    Membantu feses lebih lunak

3.    Meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit yang dideritanya



4.    Untuk menentukan intervensi selanjutnya




5.    Makanan tinggi serat dapat menurunkan konstipasi







6.    Menigkatkan eliminasi

( Nanda,2007-2008)

2.2.4.      Tindakan Keperawatan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan keperawatan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing oder untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan.(Nursalam, 2001).
Yang dimaksud dengan tindakan keperawatan adalah pelaksanaan dengan cermat dan efisien dalam situasi yang tepat, keamanan fisik dan psikologis, dilindungi dan dokumentasi perawat berupa pencatatan dan pelaporan (Zaidin Ali, 2002).
2.2.5.      Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah tindakan intlektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencanan tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. (Nursalam, 2001).
Evaluasi adalah langkah akhir dari proses keperawatan. Tugas selama tahap ini termasuk pencatatan pernyataan evaluasi dan revisi rencana tindakan keperawatan dan intervensi jika perlu. (Nursalam, 2001)
Evaluasi bertujuan untuk menilai kefektifan perawatan dan untuk mengkomunikasikan status pasien dari hasil tindakan keperawatan (Aziz Alimul Hidayat, 2004)
a.    Sasaran Evaluasi
         Menurut Zaidin Ali, (2001) sasaran evaluasi adalah sebagai berikut :
1)      Proses asuhan keperawatan berdasarkan kriteria/rencana yang telah di susun
2)      Hasil tindakan keperawatan berdasarkan kriteria keberhasilan yang telah dirumuskan dalam rencana evaluasi
b.       Hasil Evaluasi
                 Menurut Zaidin Ali, (2002) terdapat 3 kemungkinan hasil evaluasi yaitu:
1)      Tujuan tercapai apabila klien telah menunjukkan perbaikan / kemajuan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan
2)      Tujuan tercapai sebagian apabila tujuan itu tidak tercapai secara maksimal sehingga perlu di cari penyebab dan cara mengatasinya.
3)      Tujuan tidak tercapai apabila klien tidak menunjukkan perubahan/kemajuan sama sekali bahkan timbul masalah baru.
c.        Catatan Perkembangan
              Menurut Aziz Alimul Hidayat , (2004) catatan perkembangan keadaan klien yang didasarkan pada setiap masalah yang di temui pada klien. Modifikasi rencana dan tindakan mengikuti perubahan keadaan klien. Adapun metode yang di gunakan dalam catatan perkembangan adalah SOAPIER, yaitu :
S (Subyektif)          :     Perkembangan keadaan didasarkan pada apa yang dirasakan, dikeluhkan, dan dikemukakan klien.
O (Obyektif)          :     perkembangan yang dapat diamati dan di ukur oleh perawat atau tim kesehatan lain.
A (Analisa)            :     Kedua jenis data tersebut, baik subjektif maupun objektif dinilai dan dianalisis, apakah perkembangan kearah perbaikan atau kemunduran. Hasil analisis dapat menguraikan sampai dimana masalah yang ada dapat di atasi atau adkah perkembangan masalah baru yang menimbulkan diagnosa keperawatan baru.
P (Plan of care)     :     Rencana penanganan klien dalam hal ini didasarkan pada hasil analisa di atas yang berisi melanjutkan rencana sebelumnya apabila keadaan atau masalah belum teratasi dan membuat rencana baru bila rencana awal tidak efektif.
I (Implementasi)    :     Tindakan yang dilakukan berdasarkan rencana.
E (Evaluasi)                :  Berisi tentang sejauh mana rencana tindakan dan evaluasi telah di laksanakan dan sejauh mana masalah pasien teratasi.
R (Reaseessmenti) :     Bila berhasil evaluasi menunjukkan masalah belum teratasi, pengkajian ulang perlu dilakukan kembali melalui proses pengumpulan data subjektif, data objektif, dan proses analisis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar