BAB
1
1.1
Latar Belakang
Pemerintah
telah menempuh berbagai cara untuk meningkatkan kemajuan dalam bidang lalu
lintas yang dampak positifnya dapat kita rasakan sekarang ini, namun di sisi
lain kemajuan dibidang lalu lintas juga mempunyai dampak negative seperti
kecelakaan lalu lintas, akibat dari kecelakaan lalu lintas sangat banyak
diantaranya adalah fraktur, baik itu fraktur tertutup (close
fraktur) maupun fraktur terbuka (open fraktur). Pada klien
yang mengalami fraktur sering mengalami perdarahan yang akhirnya dapat
mengakibatkan syok hipovolemik, bisa juga terjadi perubahan bentuk anatomi
dari tulang yang dapat mengakibatkan gangguan body image dan harga diri
rendah.(Arif Mansjoer, 2000).
Menurut kutipan yang terdapat di Lombok Post.co.id,
gambaran situasi lantas yang terjadi di NTB tahun 2011 dapat dilihat dari
banyaknya pelanggaran. Sampai Oktober 2011, jumlah pelanggaran yang terjadi
sebanyak 40.407 kasus. Sebagian besar pelanggaran itu didominasi pelanggaran
roda dua dan anak sekolah. Sedangkan jumlah kecelakaan lalu lintas sebanyak 951
kasus dan didomonasi oleh pengendara sepeda motor.
|
Fraktur
dapat terjadi dengan beberapa penyebab antara lain, yakni karena cedera traumatik (spontan). Cedera traumatik dapat disebabkan oleh cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang
sehinggga tulang patah secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada
kulit diatasnya. Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh
dari lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur klavikula. Fraktur juga bisa disebabkan oleh kontraksi keras yang mendadak dari
otot yang kuat. (Sachdeva, 1996).
Penanganan fraktur
secara umum di RSUD Praya adalah tergantung jenis dan letak fraktur.
Pada Fraktur terbuka penanganan
ditekankan pada menanggulangi perdarahan dengan tujuan mengurangi resiko anemi
serta menggunakan bidai atau spalek untuk mengurangi resiko perdarahan ulang
akibat mobilisasi gerak pada sekitar luka dan fraktur. Fraktur tertutup
menggunakan pembidaian atau spalek untuk mengurangi resiko nyeri akut yang
berlebihan akibat imobilisai gerak, pengobatan serta perawatannya adalah
pemberian antibiotik, antipiretik serta mempertahankan keseimbangan cairan
akibat trauma, tindakan gips atau pemasangan alat bantu gerak dilakukan atas persetujuan keluarga atau klien jika
pembengkakan dan kondisi luka sudah mambaik. Perawatan yang dominan terfokus pada
kajian syok dan skala nyeri dengan tindakan manajemen nyeri serta bedres selalu
ditekankan
untuk membatasi gerak pada lokasi fraktur, melakukan observasi terhadap tanda-tanda infeksi harus dilakukan yang bertujuan untuk mengetahui apakah
infeksi terjadi akibat injuri atau pembengkakan pada patahan tulang seta
perawatan luka yang optimal pada fraktur
terbuka. (Brunner & Suddarth, 2002).
1.2
Tujuan Penulisan
1.2.1
Tujuan
Umum
Penulis diharapkan mampu memahami dan menerapkan
Asuhan Keperawatan pada klien dengan diagnosa medis Fraktur .
1.2.2
Tujuan Khusus
Penulis dapat :
a.
Menjelaskan konsep dasar penyakit fraktur, mulai dari
pengertian, penyebab, patofisiologi, pathways, tanda dan gejala, pemeriksaan penunjang,
penatalaksanaan dan komplikasi.
b.
Melakukan pengkajian pada Kien dengan diagnosa medis fraktur
c.
Merumuskan diagnosa keperawatan pada Klien dengan diagnosa medis fraktur.
d.
Menyusun rencana tindakan keperawatan pada Klien dengan diagnosa medis fraktur.
e.
Melakukan tindakan keperawatan pada Klien dengan diagnosa medis fraktur.
f.
Melakukan evaluasi keperawatan pada Klien dengan diagnosa medis fraktur.
1.3
Tempat dan Waktu
1.3.1
Tempat
Tempat
pengambilan kasus kelolaan direncanakan di Ruang
Flamboyan Rumah Sakit Umum Daerah
Praya Lombok Tengah.
1.3.2
Waktu
Waktu pengambilan kasus kelolaan
direncanakan pada bulan Juli 2013
1.4
Sistematika
Penulisan
Sistematika penulisan Laporan Akhir ini meliputi 2 Bab, yaitu :
Bab 1 berisi tentang Pendahuluan
yang menguraikan tentang latar belakang, tujuan penulisan, tempat dan waktu serta sistematika penulisan.
Bab 2 membahas tentang landasan teori yang menguraikan tentang konsep
dasar penyakit yang terdiri dari pengertian fraktur, tanda dan gejala,
penatalaksanaan dan konsep asuhan keperawatan yang terdiri dari : pengkajian, diagnosa
keperawatan, rencana tindakan keperawatan, tindakan keperawatan serta evaluasi keperawatan.
BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Dasar Penyakit Fraktur
2.1.1 Pengertian
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang
rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Arif Mansjoer, 2000)
Fraktur adalah setiap retak atau patah tulang yang utuh (Charlene, 2001)
Fraktur adalah putusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya (Brunner and Suddarth, 2002)
Fraktur adalah patah tulang yang biasanya disebabkan oleh trauma atau
tenaga fisik (Sylvia A. Price, 2003)
2.1.2 Anatomi Fisiologi Sistem Muskuloskletal
a. Anatomi Sistem Muskuloskletal
Gambar 2.1 Anatomi dan
fisiologi sistem muskuloskletal
(Valerie C. Scalov, 2007)
1)
Struktur Tulang
Struktur tulang dan jaringan ikat menyusun
kurang lebih 25% berat badan, dan otot menyusun kurang lebih 50%. Baiknya keadaan kesehatan
fungsi sistem musculoskeletal sangat tergantung pada
sistem tubuh yang lain.
Kerangka tulang merupakan kerangka yang kuat
untuk menyangga struktur tubuh otot yang melekat ke
tulang yang memungkinkan tubuh bergerak metrik. Tulang meyimpan 99%
kalsium, fosfor, magnesium, fluor. (Brunner and suddarth, 2002)
Tulang tersusun dari 3 jenis sel: osteoblas, osteosit, dan osteoklas.
Osteoblas membangun tulang dengan
membetuk kolagen tipe 1 dan proeoglikan sebagai matrik tulang atau jaringan osteoid melalui suatu proses yang diebut
osifikasi.
Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang
bertindak sebagai suatu lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang
yang padat.
Osteoklas adalah sel-sel besar berinti banyak yang
memungkinkan mineral dan matrik tulang dapat diabsorpsi. (,Sylvia, A. Price 2005.)
Sum-sum tulang
merupakan jaringan vaskuler dalam rongga sum-sum tulang panjang dan dalam pipih. Sum-sum tulang
merah yang terletak di sternum, ilium, vertebra dan rusuk bertanggung jawab pada produksi sel
darah merah dan putih. Pada orang dewasa, tulang panjang terisi oleh sum-sum
lemak kuning.
2)
Macam
– Macam Tulang
a)
Tulang Panjang
Merupakan
tulang pada lengan, tungkai, tangan dan kaki, seperti : humerus, radius, ulna,
femur, tibia, dan fibula. Batang tulang panjang disebut diafisis
dan ujung tulang panjang disebut epifisis.
Diafisis disusun oleh
tulang padat dan rongga kosong, yang membentuk saluran ke dalam batang tulang.
Epifisis disusun oleh
tulang spongiosa yang dibungkus oleh selapis tipis tulang padat. Pada tulang
panjang juga terdapat sel khusus yang disebut osteoklas. Sel-sel ini mereabsorbsi matriks tulang dipusat diafisis untuk membentuk saluran sum-sum.
b) Tulang-tulang pendek
Perbandingan
tebal dan panjang hampir sama, terdapat pada pergelangan
tangan dan kaki, bentuknya seperti kubus, yaitu :
(1)
Karpal
(2) Metakarpal
(3) Falangus
(4) Tarsalia
(5) Metatarrsalia
c) Tulang-tulang pipih
(1) Tulang iga
(2) Tempurung kepala
(3) Tulang panggul
(4) Tulang scapula/belikat
d) Tulang-tulang tidak teratur
(1) Tulang-tulang pada wajah
(2) Tulang vertebra
(Valerie C., 2007)
3)
Bagian-bagian tulang
Bagian-bagian tulang menurut
Syaifuddin (1997) yaitu :
a)
Foramen (lubang pada tulang)
b)
Fosa (lekuk tulang)
c)
Prosesus (taju/tonjolan tulang)
d)
Kondilius (taju bundar)
e)
Tuberkel (tonjolan kecil)
f)
Tuberositas (tonjolan besar)
g)
Trokanter (tonjolan besar pada tulang
paha)
h)
Krista (tepi tulang usus)
i)
Spina (tonjolan pada tulang usus)
j)
Kaput (kepala tulang)
4)
Fungsi Tulang
Fungsi tulang menurut Syaifuddin (1997) yaitu :
a) Memberi kekuatan pada kerangka tubuh.
b)
Melindungi organ penting.
c)
Tempat melekatnya otot.
d)
Tempat pembuatan sel darah.
e)
Memberikan bentuk pada bangunan
tubuh.
b. Fisiologi Sistem Muskuloskletal
Tulang terdiri atas
matriks organik keras yang sangat diperkuat dengan endapan garam kalsium dan garam
tulang.
1) Matriks organik ini terdiri dari serat-serat kolagen dan medium
gelatin homogen yang disebut substansi dasar. Substansi dasar ini terdiri
atas cairan ekstraseluler ditambah proteoglikan, khususnya kondroitin sulfat
dan asam hialuronat yang membantu mengatur pengendapan kalsium.
2) Garam-garam tulang terutama terdiri dari kalsium dan fosfat.
Rumus garam utamanya dikenal sebagai hidroksiapatit.
Tahap awal pembentukan tulang adalah sekresi kolagen (kolagen
monomer) dan substansi dasar oleh osteoblas.
Kolagen monomer dengan cepat membentuk serat-serat kolagen dan jaringan akhir
yang terbentuk adalah osteoid, yang
akan menjadi tempat di mana kalsium mengendap. Sewaktu osteoid terbentuk, beberapa osteoblas terperangkap dalam osteoid dan selanjutnya disebut osteosit.
Osteoblas dapat dijumpai di permukaan luar tulang dan dalam rongga
tulang. Lawan dari osteoblas
yang membentuk tulang adalah osteoklas
yang menyerap tulang dan mengikisnya. Pada pertumbuhan tulang normal, kecepatan
pengendapan dan absorpsi tulang sama satu dengan lainnya, sehingga massa total
dari tulang tetap konstan. Biasanya, osteoklas
terdapat dalam massa yang sedikit tetapi pekat, dan sekali massa osteoklas mulai terbentuk, maka osteoklas akan memakan tulang dalam
waktu 3 minggu dan membentuk terowongan. Pada akhir waktu ini, osteoklas akan menghilang dan terowongan
itu akan ditempati osteoblas.
Selanjutnya, mulai dibentuk tulang baru. Pengendapan tulang ini kemudian
terus berlangsung selama beberapa bulan, dan tulang yang baru itu diletakkan
pada lapisan berikutnya dari lingkaran konsentris (lamella) pada permukaan
dalam rongga tersebut sampai pada akhirnya terowongan itu terisi semua.
Pengendapan ini berhenti setelah ada pembuluh darah yang mendarahi daerah
tersebut. Kanal yang dilewati pembuluh darah ini disebut kanal
harvers. Setiap daerah tempat terjadinya tulang baru dengan cara seperti
ini disebut osteon. (Valerie C, 2007)
2.1.3 Klasifikasi Fraktur
a.
Sudut
Patah
1)
Fraktur transversal adalah fraktur
yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang. Fraktur ini stabil dan mudah dikontrol
dengan bidai dan gips.
2)
Fraktur oblik adalah fraktur yang garis
patahnya membentuk sudut terhadap tulang. Fraktur
ini tidak stabil dan sulit diperbaiki.
3)
Fraktur spiral timbul akibat torsi pada ekstremitas. Jenis fraktur
ini menimbulkan sedikit kerusakan jaringan lunak, dan ini cendrung cepat sembuh
dengan imobilisasi luar. (Sylvia A. Price, 2003)
b.
Fraktur
Multipel Pada Satu Tulang
1)
Fraktur segmental adalah dua fraktur berdekatan pada satu tulang yang menyebabkan
terpisahnya segmen sentral dari
suplai darahnya. Fraktur semacam ini
sulit ditangani.
2)
Kominuta adalah serpihan-serpihan atau terputusnya keutuhan jaringan dengan
lebih dari dua fragmen tulang.
c.
Fraktur Impaksi
Fraktur kompresi
terjadi ketika dua tulang menumbuk (akibat benturan) tulang ke tiga yang berada
diantaranya, seperti satu vertebra
dengan dua vertebra. Pada orang muda,
fraktur kompresi dapat disertai
pendarahan retroperitoneal yang cukup
berat.
d.
Fraktur Patologik
Terjadi pada daerah-daerah tulang
yang telah menjadi lemah oleh karena tumor atau proses patologik lainnya.
Tulang sering kali menunjukkan penurunan densitas.
e.
Fraktur Beban
(kelelahan) lainnya,
Fraktur beban/kelelahan
terjadi pada orang-orang yang baru saja menambah tingkat aktivitas mereka,
seperti baru diterima untuk berlatih dalam angkatan bersenjata atau orang-orang
yang baru memulai latihan lari.
f.
Fraktur Greenstick
Merupakan fraktur yang tidak
sempurna dan sering terjadi pada anak-anak. Korteks tulangnya sebagian masih
utuh, demikian juga periostenumnya. Farktur ini akan segera sembuh dan segera
mengalami remodeling ke bentuk dan fungsi normal.
g. Fraktur Avulasi
Fraktur avulasi memisahkan suatu
fragmen tulang pada tempat insersi tendon ataupun ligament.
Selain klasifikasi diatas, fraktur juga diklasifikasikan
menjadi :
a.
Fraktur Tertutup / closed atau
disebut juga “fraktur simplex” :
Fraktur yang tertutup karena
integritas kulit masih utuh/tetap tidak berubah
b.
Fraktur Terbuka / open (compound
fracture) :
Fraktur terbuka karena integritas kulit robek atau terbuka dan tulang ujung
menonjol sampai menembus kulit (Charlene, 2001)
Menurut R. Gustillo, 2001 fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat , yaitu
:
1) Derajat I
a) Luka < 1 cm
b) Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada
tanda luka remuk.
c) Fraktur sederhana, tranversal, oblik, atau
komunitip ringan
d) Kontaminasi minimal
2) Derajat II
a) Laserasi > 1cm
b) Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/avulasi
c) Fraktur komunitip sedang
d) Kontaminasi sedang
3) Derajat III
Terjadi
kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan
neurovaskular serta kontaminasi drajat tinggi. Fraktur drajat III terbagi atas :
a) Jaringan yang menutupi fraktur tulang adekuat,meskipun terdapat
laserasi luas/flap/avulasi : atau fraktur
sagmental/sangat komunitip yang di sebabkan oleh trauma bernergi tinggi
tanpa melihat besarnya ukuran luka.
b) Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau kontaminasi
masif.
c) Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer yang harus di perbaiki tanpa
melihat kerusakan jaringan lunak.
Terdapat beberapa tipe fraktur yang berat :
a.
Oblique (fraktur memiliki arah miring)
b.
Spiral (fraktur meluas yang mengelilingi tulang)
c.
Segmental (segmen tulang yang retak dan ada yang terlepas)
d.
Comminuted (mencakup beberapa faragmen)
2.1.4 Etiologi
a.
Trauma
langsung/direk
Merupakan fraktur
yang terjadi ditempat dimana bagian tersebut mendapat ruda paksa,
contoh, benturan/pukulan pada antebrakii yang mengakibatkan fraktur
b.
Tarauma
tidak langsung
Misalnya
penderita jatuh dengan lengan dalam dalam keadaan ekstensi dapat terjadi
fraktur pada pergelangan tangan, kolum cirurgikum humeri, suprakondiler dan
klavikula
(Purnawan, 1998)
c.
Fraktur
Patologik
Dalam hal ini kerusakan tulang
akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur
dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut :
1)
Tumor
Tulang (Jinak atau Ganas) : pertumbuhan jaringan baru yang tidak
terkendali dan progresif.
2)
Infeksi seperti
osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat timbul
sebagai salah satu proses yang progresif, lambat dan sakit nyeri.
3)
Rakhitis :
suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi Vitamin
D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain, biasanya disebabkan kegagalan
absorbsi Vitamin D atau
oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah.
d.
Secara
Spontan
Disebabkan oleh stress tulang yang
terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas
dikemiliteran.
2.1.5 Patofisiologi
Tulang bersifat
rapuh namun cukup mempunyai kekeuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan.
(Graham, 1993). Tapi apabila tekanan eksternal
yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma
pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. (Carpenito, 1995).
Setelah terjadi
fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan
tersebut dan terbentuklah hematoma di
rongga medula tulang. Jaringan tulang
segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi
yang ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian
inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya. (Black, 1993)
2.1.6 Patways
Gambar 2.2 Pathways Fraktur
2.1.7
Faktor-faktor yang mempengaruhi
fraktur
Menurut Ignatavicius (1995) yaitu:
a.
Faktor Ekstrinsik
Adanya tekanan dari luar yang
bereaksi pada tulang yang tergantung terhadap besar, waktu, dan arah tekanan
yang dapat menyebabkan fraktur.
b.
Faktor Intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting
dari tulang yang menentukan daya tahan untuk timbulnya fraktur seperti
kapasitas absorbsi dari tekanan,
elastisitas, kelelahan, dan kepadatan atau kekerasan tulang
c.
Biologi penyembuhan tulang
Tulang bisa beregenerasi sama
seperti jaringan tubuh yang lain, fraktur
merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan jalan membentuk
tulang baru diantara ujung patahan tulang. Tulang baru dibentuk oleh aktivitas
sel-sel tulang. Ada lima stadium penyembuhan tulang, yaitu:
1)
Stadium Satu-Pembentukan Hematoma
Pembuluh darah robek dan
terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur. Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak
dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast. Stadium ini berlangsung 24 – 48
jam dan perdarahan berhenti sama sekali.
2)
Stadium Dua-Proliferasi Seluler
Pada stadium initerjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro kartilago yang berasal dari periosteum,`endosteum, dan bone
marrow yang telah mengalami trauma. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam
lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast
beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis.
Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru yang menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah. Fase ini
berlangsung selama 8 jam setelah fraktur
sampai selesai, tergantung frakturnya.
3)
Stadium Tiga-Pembentukan Kallus
Sel–sel yang berkembang
memiliki potensi yang kondrogenik dan
osteogenik, bila diberikan keadaan
yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan juga kartilago. Populasi sel
ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast
dan osteoklast mulai berfungsi dengan
mengabsorbsi sel-sel tulang yang
mati. Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago,
membentuk kallus atau bebat pada permukaan
endosteal dan periosteal. Sementara tulang yang imatur (anyaman tulang ) menjadi lebih padat sehingga gerakan pada
tempat fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu.
4)
Stadium Empat-Konsolidasi
Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang berubah menjadi lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku
dan memungkinkan osteoclast menerobos melalui reruntuhan
pada garis fraktur, dan tepat
dibelakangnya osteoclast mengisi
celah-celah yang tersisa diantara fragmen
dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu
beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban yang normal.
5)
Stadium Lima-Remodelling
Fraktur telah
dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa bulan atau
tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang yang terus-menerus. Lamellae yang lebih tebal diletakkan
pada tempat yang tekanannya lebih tinggi, dinding yang tidak dikehendaki
dibuang, rongga sumsum dibentuk, dan akhirnya dibentuk struktur
yang mirip dengan normalnya.(Black, 1993 dan Graham,1993)
2.1.8 Tanda Dan Gejala
a. Deformitas
Daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya perubahan keseimbangan terjadi seperti :
Daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya perubahan keseimbangan terjadi seperti :
1) Rotasi pemendekan tulang
2) Penekanan tulang
b. Bengkak : edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur.
c. Spasme otot spasme involunters dekat fraktur
d. Tenderness/keempukan
e. Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme
otot berpindahnya tulang dari
tempatnya dan kerusakan struktur di daerah yang berdekatan.
f. Kehilangan sensasi (mati rasa,
mungkin terjadi dari rusaknya saraf/perdarahan)
g. Pergerakan abnormal
h. Shock hipovolemik hasil dari
hilangnya darah
i.
Krepitasi : sensasi berderak yang teraba dan
sering ditemukan pada tulang rawan sendi yang menjadi kasar
(Black, 1993 ).
2.1.9
Pemeriksaan Penunjang
Menurut Charlene 2001,
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada fraktur yaitu:
a.
Rontegen (Sinar X)
Hal yang harus dibaca pada x-ray yaitu:
1)
Bayangan jaringan
lunak.
2)
Tipis tebalnya korteks sebagai
akibat reaksi periosteum atau biomekanik atau juga rotasi.
3)
Trobukulasi ada tidaknya rare fraction.
4)
Sela sendi serta bentuknya arsitektur
sendi.
b.
Arthography : menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda paksa.
c.
Mylofraphy : menggambarkan cabang-cabang saraf spinal
dan pembuluh darah di ruang tulang vertebrae
yang mengalami kerusakan akibat trauma
d.
Magnetik Resonance Imaging (MRI): menggambarkan semua kerusakan
akibat fraktur.
e.
Arthroscopy : didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma yang
berlebihan.
f.
Biopsi : pemeriksaan mikroorganisme kultur yang lebih
diindikasikan bila terjadi infeksi.
2.1.10 Penatalaksanaan
Penatalaksaan pada klien dengan fraktur tertutup menurut
Arif Mansjoer, 2000 adalah sebagai berikut :
a.
Terapi konservatif, terdiri
dari :
1)
Proteksi, untuk fraktur dengan
kedudukan baik. Mobilisasi saja tanpa reposisi, misalnya pemasangan gips pada
fraktur inkomplet dan fraktur tanpa kedudukan baik.
2)
Reposisi tertutup dan fiksasi
dengan gips. Reposisi dapat dalam anestesi umum atau lokal.
3)
Traksi, untuk reposisi secara
berlebihan.
b.
Terapi farmakologi, terdiri
dari :
1)
Reposisi terbuka, fiksasi
eksternal.
2)
Reposisi tertutup kontrol
radiologi diikuti interial.
Terapi ini dengan reposisi anatomi
diikuti dengan fiksasi internal.
Tindakan pada fraktur terbuka harus dilakukan secepat
mungkin, penundaan waktu dapat mengakibatkan komplikasi. Waktu yang optimal
untuk bertindak sebelum 6-7 jam berikan toksoid, anti tetanus serum (ATS) /
tetanus hama globidin. Berikan antibiotik untuk kuman gram positif dan negatif
dengan dosis tinggi. Lakukan pemeriksaan kultur dan resistensi kuman dari dasar
luka fraktur terbuka.
2.1.11 Komplikasi fraktur
a)
Komplikasi Awal
1)
Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh
tindakan emergensi splinting,
perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi,
dan pembedahan.
2) Kompartement Syndrom
Kompartement
Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi karena terjebaknya otot,
tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut. Ini disebabkan oleh
oedema atau perdarahan yang menekan otot, saraf, dan pembuluh darah. Selain itu
karena tekanan dari luar seperti gips dan pembebatan yang terlalu kuat.
3) Fat Embolism Syndrom
Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering
terjadi pada kasus fraktur tulang
panjang. FES terjadi karena sel-sel lemak yang dihasilkan bone marrow kuning
masuk ke aliran darah dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang
ditandai dengan gangguan pernafasan, tachykardi,
hypertensi, tachypnea, demam.
4) Infeksi
System
pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma orthopedic
infeksi dimulai pada kulit (superficial)
dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam
pembedahan seperti pin dan plat.
5) Avaskuler Nekrosis
Avaskuler
Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke
tulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis
tulang dan diawali dengan adanya Volkman’s
Ischemia.
6) Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya
permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya
terjadi pada fraktur.
b)
Komplikasi Dalam Waktu Lama
1) Delayed Union
Delayed
Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang
untuk menyambung. Ini disebabkan karena penurunan suplai darah ke tulang.
2) Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi dan memproduksi sambungan yang lengkap,
kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Nonunion ditandai dengan adanya
pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang.
3) Malunion
Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan
meningkatnya tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan dengan pembedahan dan
reimobilisasi yang baik. (Black,1993)
2.2
Konsep Asuhan Keperawatan
Proses keperawatan adalah penerapan
pemecahan masalah keperawatan secara ilmiah untuk mengidentifikasi masalah
klien, merencanakan secara sistematis, melaksanakan serta mengevaluasi hasil
tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan (Dongoes, 2000)
Asuhan keperawatan adalah proses atau
rangkaian kegiatan pada praktek keperawatan yang diberikan secara langsung
kepada klien di berbagai tatanan pelayanan kesehatan (Zaidin Ali, 2001).
Proses keperawatan adalah cara yang
sistematis yang dilakukan oleh perawat bersama klien dalam menentukan kebutuhan
asuhan keperawatan dengan melakukan pengkajian, menentukan diagnosis,
merencanakan tindakan yang akan dilakukan, melaksanakan tindakan serta
mengevaluasi hasil asuhan yang telah diberikan dengan berfokus pada klien (Abdul Aziz, A.H, 2004).
Di dalam memberikan asuhan keperawatan
digunakan system atau metode proses keperawatan yang dalam pelaksanaannya
dibagi menjadi 5 tahap, yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi.
2.2.1 Pengkajian
Pengkajian
keperawatan adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu
proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk
mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan kilen (Iyer et al (1996), dari buku
Nursalam, 2001)
Pengkajian merupakan tahap awal dan
landasan dalam proses keperawatan, untuk itu diperlukan kecermatan dan
ketelitian tentang masalah-masalah klien sehingga dapat memberikan arah
terhadap tindakan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantuang pada tahap ini, tahap ini terbagi atas:
a.
Pengumpulan Data
1)
Anamnesa
a)
Identitas Klien
Pada
umumnya umur rentan pada penderita fraktur terjadi pada usia remaja dengan usia
sekitar 17 ke atas. Dan menurut data yang tertera penderita sebagian besar
berjenis kelamin laki – laki.
(b) Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur
adalah rasa nyeri dan
imobilisasi. Nyeri tersebut
bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian
yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan:
(1)
Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang
menjadi faktor presipitasi nyeri.
(2)
Quality
of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien.
Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk.
(3)
Region
: radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit
menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.
(4)
Severity
(Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa
berdasarkan skala nyeri atau klien
menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya.
(5)
Time:
berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam hari
atau siang hari.
(Ignatavicius, 1995)
c)
Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan
untuk menentukan sebab dari fraktur,
yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya
penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan
bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme
terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain.
d)
Riwayat Penyakit Dahulu
Pada
pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan
menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget’s
yang menyebabkan fraktur patologis yang
sering sulit untuk menyambung. Selain itu, penyakit diabetes dengan luka di kaki sangat beresiko terjadinya osteomyelitis
akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan
tulang.
e)
Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan
dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis
yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetic.
f)
Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien
terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan
masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik
dalam keluarga ataupun dalam masyarakat .
g) Pola-Pola Fungsi Kesehatan
(1) Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Pada kasus
fraktur akan timbul ketakutan akan
terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan
untuk membantu penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi
kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme
kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah
klien melakukan olahraga atau tidak.
(2)
Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien
fraktur harus mengkonsumsi nutrisi
melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C
dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan
penyebab masalah muskuloskeletal dan
mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau
protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi
masalah muskuloskeletal terutama pada
lansia. Selain itu juga obesitas juga
menghambat degenerasi dan mobilitas klien.
(3)
Pola Eliminasi
Untuk kasus
fraktur humerus tidak ada gangguan
pada pola eliminasi, tapi walaupun
begitu perlu juga dikaji frekuensi,
konsistensi, warna serta bau feces
pada pola eliminasi alvi. Sedangkan
pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi, kepekatannya,
warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau
tidak.
(4)
Pola Tidur dan Istirahat
Semua
klien fraktur timbul rasa nyeri,
keterbatasan gerak, sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur
klien. Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana
lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur.
(5)
Pola Aktivitas
Karena
timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan klien menjadi
berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal lain
yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien.
Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain.
(6)
Pola Hubungan dan Peran
Klien akan
kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat karena klien harus
menjalani rawat inap.
(7) Pola Persepsi dan Konsep Diri
Dampak
yang timbul pada klien fraktur yaitu
timbul ketidakkuatan akan kecacatan
akibat frakturnya, rasa cemas, rasa
ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap
dirinya yang salah (gangguan body image).
(8)
Pola Sensori dan Kognitif
Pada klien
fraktur daya rabanya berkurang
terutama pada bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain
tidak timbul gangguan. Begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri akibat fraktur.
(9)
Pola Reproduksi Seksual
Dampak
pada klien fraktur yaitu, klien tidak
bisa melakukan hubungan seksual
karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang
dialami klien. Selain itu juga, perlu dikaji status perkawinannya termasuk
jumlah anak, lama perkawinannya.
(10) Pola Penanggulangan Stress
Pada klien
fraktur timbul rasa cemas tentang
keadaan dirinya, yaitu ketidakkuatan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang
ditempuh klien bisa tidak efektif.
(11) Pola Tata Nilai dan Keyakinan
Untuk
klien fraktur tidak dapat
melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan
keterbatasan gerak klien. (Ignatavicius, 1995).
2)
Pemeriksaan Fisik
Dibagi
menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk mendapatkan
gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis). Hal ini perlu untuk dapat
melaksanakan total care karena ada kecenderungan dimana spesialisasi hanya memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi
lebih mendalam.
a)
Gambaran Umum
Perlu menyebutkan:
(1)
Keadaan
umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda, seperti:
(a)
Kesadaran
penderita: apatis, sopor, koma,
gelisah, komposmentis tergantung pada
keadaan klien.
(b)
Kesakitan,
keadaan penyakit: akut, kronik,
ringan, sedang, berat dan pada kasus fraktur
biasanya akut.
(c)
Tanda-tanda
vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk.
(2)
Pemeriksaan
body of system pada klien fraktur terdiri dari:
(a)
Sistem
Pernapasan (B1 : Breathing)
Ada tidaknya ditemukan ketidak mampuan menelan, batuk, hambatan jalan napas karena
faktor resiko (merokok),
timbulnya kesulitan dalam bernafas atau tak teratur, suara nafas terdengar ronki (aspirasi sekresi).
(b)
Sistem
Sirkulasi (B2 : Bleeding)
Ada tidaknya penyakit
jantung, riwayat hipotensi postural,
frekuensi nadi bervariasi (karena ketidakstabilan fungsi jantung, obat-obatan,
efèk stroke pada pusat vasomotor), distritmia, perubahan elektrokardiogram,
hipertensi arterial sehubungan dengan
embolisme /malformasi vaskuler.
(c)
Sistem Persyarafan (B3 : Brain)
Dapat ditemukan tingkat kesadaran biasanya akan tetap sadar bila penyebabnya trombosis dan terjadi karena pada tahap awal, gangguan tingkah laku
(seperti latergi, apatis, menyerang),
gangguan fungsi kognitif ( seperti penurunan memori ), ekstremitas ( kelemahan /
paralisis), pada wajah terjadi paralisis
atau parese. Afasin (gangguan atau kehilangan fungsi bahasa). Kehilangan
kemampuan menggunakan motorik, kejang, ukuran pupil tidak sama, sinkope, kelemahan/kesemutan/kebas, gangguan
rasa pengecapan dan penciuman.
(d)
Sistem Perkemihan ( B4 : Bledder )
Perubahan pola berkemih,
seperti inkontinensia urine, anuria, distensi abdomen ( distensi kandungan kemih berlebihan ),
bising usus negatif ( Hens Paralitik ).
(e)
Sistem Pencernaan ( B5 : Bowe l)
Napsu makan hilang, kehilangan sensasi (rasa kecap)
pada lidah, pipi dan tenggorokan, disfagia kesulitan menelan ( gangguan pada
refleksi platum dan faringeal), adanya riwayat diabetes,
peningkatan lemak dalam darah.
(f)
Sistem
Muskoluskletal (B
6 : Bone)
Gangguan tonus otot, paralitik (hemiplegia) dan terjadi
kelemahan umum hilangnya rangsangan sensorik
kontralateral ( pada sisi tubuh yang berlawanan) pada ekstremitas yang
disebabkan oleh fraktur dan kadang pada ipsilateral (yang satu sisi) pada wajah. (Doengoes 2000)
b)
Keadaan
Lokal
Harus diperhitungkan keadaan proksimal
serta bagian distal terutama mengenai
status neurovaskuler.
Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal menurut Soelarto (1995) adalah:
(1)
inspeksi
Perhatikan apa yang dapat
dilihat antara lain:
(a)
Cictriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan
seperti bekas operasi).
(b)
Warna
kemerahan atau kebiruan (livide) atau
hyperpigmentasi.
(c)
Benjolan,
pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa (abnormal).
(d)
Posisi
dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas)
(2)
palpasi
Pada waktu
akan palpasi, terlebih dahulu posisi
penderita diperbaiki mulai dari posisi netral
(posisi anatomi). Pada dasarnya ini
merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah, baik pemeriksa maupun
klien.
Yang perlu dicatat
adalah:
(a)
Perubahan
suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit.
(b)
Apabila
ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi
atau oedema terutama disekitar
persendian.
(c)
Nyeri
tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3 proksimal,tengah, atau distal).
Otot: tonus pada waktu relaksasi
atau kontraksi, benjolan yang
terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. Selain itu juga diperiksa
status neurovaskuler. Apabila ada
benjolan, maka sifat benjolan perlu dideskripsikan permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap
dasar atau permukaannya, nyeri atau
tidak, dan ukurannya.
(3) Move (pergerakan terutama lingkup gerak)
Setelah melakukan
pemeriksaan feel, kemudian diteruskan
dengan menggerakan ekstrimitas dan
dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan lingkup gerak
ini perlu, agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya. Gerakan
sendi dicatat dengan ukuran derajat, dari tiap arah pergerakan mulai dari titik
0 (posisi netral) atau dalam ukuran
metrik. Pemeriksaan ini menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau tidak. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan pasif, (Soelarto,
1995)
3)
Pemeriksaan Laboratorium
a) Kalsium Serum
dan Fosfor Serum meningkat pada tahap
penyembuhan tulang.
b) Alkalin
Fosfat meningkat pada
kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan osteoblastik
dalam membentuk tulang.
c) Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat
Dehidrogenase (LDH-5), Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
(Ignatavicius, 1995)
2.2.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa
keperawatan adalah keputusan klinik mengenai respon individu (klien dan
masyarakat ) tentang masalah kesehatan aktual atau potensial sebagai dasar
seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan dengan
kewenangan perawat (NANDA).
Diagnosa
keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respons manusia (status
kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana
perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi
secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah,
dan merubah (Lynda Juall Carpenito, 2000)
Diagnosa keperawatan menurut L.J. Carpenito (2000)
dapat dibedakan menjadi 5 kategori :Aktual, Resiko, Kemungkinan, Wellness dan
Sindrom.
a.
Aktual yaitu menjelaskan
masalah nyata saat ini sesuai dengan data klinik yang ditentukan. Syarat untuki
menegakkan diaknosa keperawatan actual harus ada unsue PES. Symptom harus
memenuhi criteria (80%-100%) dan sebagian kriteria minor dari pedoman diagnosa NANDA.
Misalnya, ada data : Muntah, Diare, dan
turgor jelek selama 3 hari
Kekurangan volume cairan tubuh
berhubungan dengan kehilangan cairan secara abnormal (Tarwoto Wartonah, 2000)
b.
Resiko yaitu menjelaskan maslah
kesehatan yang nyata akan terjadi jika tidak dilakukan intervensi. Syarat untuk
menegakkan resiko adalah adanya unsure PE (problem dan etiologi). Penggunaan resiko
dan resiko tinggi tergantung dari tingkat keparahan/kerentangan terhadap
maslah.
Contoh : Resiko gangguan integritas
kulit berhubungan dengan diare yang terus menerus.
c.
Kemungkinan yaitu menjelaskan
bahwa perlu adanya data tambahan untuk memastikan masalah keperawatan
kemungkinan.
Contoh : Kemungkinan gangguan konsep
diri : rendah diri/terisolasi berhubungan dengan diare.
d.
Wellness (sejahtera) adalah
keputusan klinik tentang keadaan individu, keluarga, dan atau masyarakat dalam
transisi dan tingkat sejahtera tertentu ke tingkat sejahtera lebih
tinggi.kategori Wellness tidak mengandung unsure “factor yang berhubungan”.
Ada 2 kunci yang harus ada :
1)
Sesuatu yang menyenangkan pada
tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi
2)
Adanya status dan fungsi yang
efektif.
Contoh : Potensial peningkatan hubungan dalam keluarga
Hasil yang diharapkan meliputi :
a)
Makan pagi bersama selama 5
hari/minggu
b)
Melibatkan anak dalam
pengambilan keputusan keluarga
c)
Menjaga kerahasiaan setiap
anggota keluarga.
Diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan fraktur adalah sebagai berikut:
a.
Nyeri
akut berhubungan dengan agen cedera fisik
b.
Kerusakan
mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan muskuloskletal
c.
Resiko
Infeksi berhubungan dengan tidakadekuatnya pertahanan perifer
d.
Kurang
pengetahuan tentang kondisi berhubungan dengan salah interpretasi informasi. (L.J. Carpenito, 2000)
2.2.3 Rencana Tindakan Keperawatan
Rencana keperawatan adalah pengembangan
strategi desain untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang
ditentukan pada diagnose keperawatan (Iyer et all (1996), dari buku Nursalam, 2001).
Rencana
keperawatan adalah sebagai suatu dokumen tulisan tangan dalam menyelesaikan
masalah, tujuan, dan intervensi. (Nursalam, 2001).
a. Menentukan prioritas
Berbagai cara dalam memprioritaskan
masalah diantaranya :
1) Berdasarkan Hirarki Maslow yaitu
fisiologis, keamanan/ keselamatan, mencintai dan memiliki, harga diri, dan
aktualisasi diri.
2) Berdasarkan Griffth – Kenney Chriestensen
dengan urutan :
a) Ancaman kehidupan dan kesehatan
b)
Sumber
dana dan daya yang tersedia
c)
Peran
serta klien
d) Prinsip ilmiah dan praktik keperawatan
b. Menentukan kriteria hasil
Hal - hal yang perlu
diperhatikan dalam menentukan kriteria hasil adalah konsep SMART, yaitu :
S : Specifik
(harus spesifik dan tidak menimbulkan arti ganda)
M : Measurable (keperawatan harus dapat diukur, khususnya tentang
prilaku klien : dapat dilihat, didengar, diraba, dirasakan, dan dibau)
A : Archiveable
(harus dapat dicapai)
R : Reasonable (tujuan harus dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah)
T : Time
(waktu tindakan keperawatan)
Tabel, 2.1 Rencana Tindakan
Keperawatan
|
NO
|
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
|
KRITERIA
HASIL
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
1
1
|
Nyeri akut berhubungan dengan agen
cedera fisik
2
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan rasa
nyaman (nyeri) dapat dapat teratasi dengan kriteria hasil :
1.Rasa nyeri hilang
2.Menunjukkan tindakan
santai, mampu berpartisipasi dalam aktivitas
3.Menunjukkan penggunaan
keterampilan relaksasi dan aktivitas
3
|
1. Lakukan pendekatan pada klien dan
keluarga
2. Kaji tingkat intensitas dan frekwensi
nyeri
3. Jelaskan pada klien penyebab nyeri
4
|
1. Hubungan yang baik membuat klien dan
keluarga kooperatif
2. Tingkat intensitas nyeri dan frekwensi
menunjukkan skala nyeri
3. Memberikan penjelasan akan menambah
pengetahuan klien akan nyeri.
5
|
|
|
|
|
4. Observasi tanda-tanda vital
5. Ajarkan penggunaan teknik manajemen nyeri
(relaksasi
dan distraksi)
6. Pertahankan imobilisasi
pada bagian yang patah
7. Lakukan kolaborasi dengan tim medis dalam
pemberian analgesic
|
4. Untuk mengetahui perkembangan klien
5. Mengalihkan perhatian terhadap nyeri,
meningkatkan kontrol terhadap nyeri yang mungkin berlangsung lama.
6. Mengurangi keluhan nyeri
dan mencegah perubahan tentang atau perlakuan jaringan oleh tulang
7. Merupakan tindakan dependen perawat,
dimana analgesic berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri
|
|
2
|
Kerusakan mobilitas
fisik berhubungan dengan kerusakan muskuloskletal
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan,
kerusakan mobilitas fisik dapat teratasi dengan kriteri hasil :
1.Klien mampu
meningkatkan atau mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi.
|
1. Kaji tingakat kekuatan
otot dan ketidak mampuan gerak serta jelaskan tentang immobilisas
2. Bantu klien
untuk berlatih ROM pasif dan aktif
|
1.
Untuk mengetahui ketidak mampuan gerak klien, pemberian
informasi menimbulkan sikap kooperatif.
2.
Peningkatan aliran darah keotot dan tulang akan
meningkatkan tonus otot
|
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
|
|
2.Klien mampu
mempertahankan posisi fungsional, mampu meningkatkan kekuatan/fungsi yang
sakit dan mengkompensasi bagian tubuh,
3.Klien menunjukkan tehnik yang memampukan melakukan
aktivitas.
|
3. Jelaskan pada
klien bahwa rain berlatih makin baik dan membantu mempercepat penyembuhan.
4. Anjurkan untuk
bepartisifasi dalam kegiatan sesuai dengan kemampuan
5. Bantu klien dalam
perwatan diri seperti mandi dan sikat gigi
|
dan syaraf cepat pulih
3.Rehabilitasi dinilebih baik, fungsi otot cepat pulih
4. Mengikut sertakan klien,
menambah rasa percaya diri dan mau mempergunakan fungsi tuguhn
5. Meningkatkan
ketegangan otot, sirkulasi dan
meningkatkan rasa sehat pada diri sendiri
|
|
3
|
Resiko Infeksi
berhubungan dengan tidakadekuatnya pertahanan perifer
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan resiko infeksi dapat teratasi
dengan kriteria hasil :
1. Tanda infeksi tidak ada.
2. Tidak terjadi
pembengkakan sekitar fraktur.
3. Demam tidak terjadi.
4. Vital sign dalam batas
normal.
|
1. Pantau tanda-tanda vital
2. Lakukan perawatan terhadap prosudur
inpasif seperti infuse, dan kateter
3. Pantau tanda-tanda infeksi
|
1. Mengidentifikasi tanda-tanda
peradangan terutama bila suhu meningkat
2. Untuk mengurangi resiko
infeksi nasokomial
3. Menemukan tanda infeksi
sedini mungkin
|
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
|
|
|
4. Kolaborasi untuk pemberian antibiotic
|
4. Antibiotik mencegah
perkembangan mikroorganisme pathogen.
|
|
4
|
Kurang pengetahuan tentang kondisi berhubungan
dengan salah interpretasi informasi
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, kurang pengetahuan tentang
kondisi dapat teratasi dengan kriteria hasil :
-
klien mengerti dan memahami tentang penyakitnya.
-
klien
kooperatif dalam tindakan selanjutnya
|
1. Dorong semangat klien untuk mengungkapkan
masalah akibat penyakit yang dideritanya
2. Dengarkan keluhan klien
dan keluarganya dengan baik.
3. Jelaskan tanda-tanda
kemajuan dalam perawatan dan pengobatan.
4.
Berikan informasi yang akurat tentang penyakitnya.
5. Anjurkan klien dan
keluarga untuk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan dan senantiasa berdoa
|
1.
Identifikasi masalah dan usaha pemecahannya bersama
klien dan keluarga
2.
Menjadi pendengar yang baik adalah salah satu inti
ubungan terapeutik
3.
Membina hubungan saling percaya dan memberikan rasa
aman klien
4.
Menambah pengetahuan dan prilaku kooperaratif.
5.
Untuk meringankan perasaan cemas yang dihadapi
|
( M.E. Dongoes, 2000 )
2.2.4 Tindakan Keperawatan
Pelaksanaan
merupakan tahap keempat dari proses keperawatan dimana perencanaan dimasukan
dalam tindakan selama fase implementasi,
ini merupakan fase kerja aktual dari
proses keperawatan (Dongoes, 2000)
Pelaksanaan
tindakan keperawatan adalah pelakasanaan tindakan yang
telah ditemukan dengan mekanisme agar kebutuhan klien terpenuhi secara optimal. Pelaksanaan keperawatan
merupakan realisasi dari rencana
keperawatan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan klien akan keperawatan dengan
melaksanakan kegiatan sesuai yang direncanakan.
Tindakan
keperawatan dapat dilaksanakan oleh perawat secara mandiri,semua tindakan yang
telah dilakukan dicatat dalam catatan tindakan perawatan klien, guna mengetahui
sejauhmana rencana-rencana perawat telah dilakukan, setelah itu perawat
mengobservasi klien terhadap tindakan yang dilakukan,(L.J. Carpenito, 1998).
2.2.5 Evaluasi Keperawatan
Evaluasi
adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan
seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaannya sudah
berhasil dicapai. Melalui evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor
”kealpaan” yang terjadi selama tahap pengkajian, analisa, perencanaan, dan
pelaksanaan tindakan (Ignatavicius & Bayne, (1994), dari buku Nursalam, 2001)
Ada 2
komponen untuk mengevaluasi kualitas tindakan keperawatan, yaitu :
a. Proses (formatif)
Fokus evaluasi ini adalah
aktifitas dari proses keperawatan dan hasil kualitas pelayana tindakan
keperawatan. Evaluasi proses keperawatan dilaksanankan segera setelah
perencanaan keperawatan dilaksanakan untuk membantu keefektifitasan terhadap
tindakan.
b. Hasil (sumatif)
Fokus evaluasi hasil adalah
perubahan prilaku atau status kesehatan klien. Tipe evaluasi ini dilaksanakan
pada akhir tindakan keperawatan secara paripurna.
(Nursalam, 2001)

