mivo.tv

Sabtu, 20 Juli 2013

Proposal askep fraktur bab I dan II


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1        Latar Belakang
Pemerintah telah menempuh berbagai cara untuk meningkatkan kemajuan dalam bidang lalu lintas yang dampak positifnya dapat kita rasakan sekarang ini, namun di sisi lain kemajuan dibidang lalu lintas juga mempunyai dampak negative seperti kecelakaan lalu lintas, akibat dari kecelakaan lalu lintas sangat banyak diantaranya adalah fraktur, baik itu fraktur tertutup (close fraktur) maupun fraktur terbuka (open fraktur). Pada klien yang mengalami fraktur sering mengalami perdarahan yang akhirnya dapat mengakibatkan syok hipovolemik, bisa juga terjadi perubahan bentuk anatomi dari tulang yang dapat mengakibatkan gangguan body image dan harga diri rendah.(Arif Mansjoer, 2000).
Menurut kutipan yang terdapat di Lombok Post.co.id, gambaran situasi lantas yang terjadi di NTB tahun 2011 dapat dilihat dari banyaknya pelanggaran. Sampai Oktober 2011, jumlah pelanggaran yang terjadi sebanyak 40.407 kasus. Sebagian besar pelanggaran itu didominasi pelanggaran roda dua dan anak sekolah. Sedangkan jumlah kecelakaan lalu lintas sebanyak 951 kasus dan didomonasi oleh pengendara sepeda motor.

 
Menurut data dari catatan medik Rumah Sakit Umum Daerah Praya khususnya ruang perawatan penyakit bedah yang merawat kasus - kasus tersebut, jumlah kasus fraktur yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas dan kecelakan lain dalam kurun waktu 3 tahun terakhir yakni tahun 2010 sebanyak 515 kasus dengan perincian, laki-laki sebanyak 374 orang (72,62%) dan perempuan sebanyak 141 orang  (27,38%). Tahun 2011 jumlah kasus 576 orang dengan perincian laki-laki sebanyak 455 orang (78,99%)  dan perempuan sebanyak 121 orang (21,01%). Tahun 2012 tercatat dari bulan Januari sampai dengan bulan September sebanyak 332 kasus dengan perincian laki-laki 303 orang  (91,27%) dan perempuan sebanyak 29 orang (8.73%). (Rekam Medik RSUD Praya, 2012).
            Fraktur dapat terjadi dengan beberapa penyebab antara lain, yakni karena cedera traumatik (spontan). Cedera traumatik dapat disebabkan oleh cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehinggga tulang patah secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya. Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur klavikula. Fraktur juga bisa disebabkan oleh kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat. (Sachdeva, 1996).
               Penanganan fraktur secara umum di RSUD Praya adalah tergantung jenis dan letak fraktur. Pada Fraktur terbuka penanganan ditekankan pada menanggulangi perdarahan dengan tujuan mengurangi resiko anemi serta menggunakan bidai atau spalek untuk mengurangi resiko perdarahan ulang akibat mobilisasi gerak pada sekitar luka dan fraktur. Fraktur tertutup menggunakan pembidaian atau spalek untuk mengurangi resiko nyeri akut yang berlebihan akibat imobilisai gerak, pengobatan serta perawatannya adalah pemberian antibiotik, antipiretik serta mempertahankan keseimbangan cairan akibat trauma, tindakan gips atau pemasangan alat bantu gerak dilakukan atas persetujuan keluarga atau klien jika pembengkakan dan kondisi luka sudah mambaik. Perawatan yang dominan terfokus pada kajian syok dan skala nyeri dengan tindakan manajemen nyeri serta bedres selalu ditekankan untuk membatasi gerak pada lokasi fraktur, melakukan observasi terhadap tanda-tanda infeksi harus dilakukan yang bertujuan untuk mengetahui apakah infeksi terjadi akibat injuri atau pembengkakan pada patahan tulang seta perawatan luka yang optimal pada fraktur terbuka. (Brunner & Suddarth, 2002).

1.2        Tujuan Penulisan
1.2.1        Tujuan Umum
Penulis diharapkan mampu memahami dan menerapkan Asuhan Keperawatan pada klien dengan diagnosa medis Fraktur .
1.2.2        Tujuan Khusus
Penulis dapat :
a.       Menjelaskan konsep dasar penyakit fraktur, mulai dari pengertian, penyebab, patofisiologi, pathways, tanda dan gejala, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan dan komplikasi.
b.      Melakukan pengkajian pada Kien dengan diagnosa medis fraktur
c.       Merumuskan diagnosa keperawatan pada Klien dengan diagnosa medis fraktur.
d.      Menyusun rencana tindakan keperawatan pada Klien dengan diagnosa medis fraktur.
e.       Melakukan tindakan keperawatan pada Klien dengan diagnosa medis fraktur.
f.       Melakukan evaluasi keperawatan pada Klien dengan diagnosa medis fraktur.

1.3        Tempat dan Waktu
1.3.1        Tempat
Tempat pengambilan kasus kelolaan direncanakan di Ruang Flamboyan Rumah  Sakit  Umum  Daerah Praya Lombok Tengah.
1.3.2        Waktu
Waktu pengambilan kasus kelolaan direncanakan pada bulan Juli 2013
1.4        Sistematika Penulisan
                       Sistematika  penulisan Laporan  Akhir ini meliputi  2  Bab,    yaitu :
 Bab 1 berisi tentang Pendahuluan yang menguraikan tentang latar belakang, tujuan penulisan, tempat dan waktu serta sistematika penulisan.
Bab 2 membahas tentang landasan teori yang menguraikan tentang konsep dasar penyakit yang terdiri dari pengertian fraktur, tanda dan gejala, penatalaksanaan dan konsep asuhan keperawatan yang terdiri dari : pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana tindakan keperawatan, tindakan keperawatan serta evaluasi keperawatan.




 
BAB  2

TINJAUAN  TEORI

                                                        

2.1    Konsep Dasar Penyakit Fraktur

2.1.1        Pengertian

         Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Arif Mansjoer, 2000)
         Fraktur adalah setiap retak atau patah tulang yang utuh (Charlene, 2001)
         Fraktur adalah putusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya (Brunner and Suddarth, 2002)
         Fraktur adalah patah tulang yang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Sylvia A. Price, 2003)







2.1.2        Anatomi Fisiologi Sistem Muskuloskletal

a.       Anatomi Sistem Muskuloskletal



 








Gambar 2.1 Anatomi dan fisiologi sistem muskuloskletal
 (Valerie C. Scalov, 2007)
1)   Struktur Tulang
Struktur tulang dan jaringan ikat menyusun kurang lebih 25% berat badan, dan otot menyusun kurang lebih 50%. Baiknya keadaan  kesehatan fungsi sistem musculoskeletal sangat tergantung pada sistem tubuh yang lain.
Kerangka tulang merupakan kerangka yang kuat untuk menyangga struktur tubuh otot yang melekat ke tulang yang memungkinkan tubuh bergerak  metrik. Tulang meyimpan 99% kalsium, fosfor, magnesium, fluor. (Brunner and suddarth, 2002)
Tulang tersusun dari  3 jenis sel: osteoblas, osteosit, dan osteoklas. Osteoblas  membangun tulang dengan membetuk kolagen tipe 1 dan proeoglikan sebagai matrik tulang atau jaringan osteoid melalui suatu proses yang diebut osifikasi.
Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang  padat.
Osteoklas adalah sel-sel besar berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matrik tulang dapat diabsorpsi. (,Sylvia, A. Price 2005.)
Sum-sum tulang merupakan jaringan vaskuler dalam rongga sum-sum tulang panjang dan dalam pipih. Sum-sum tulang merah yang terletak di sternum, ilium, vertebra dan rusuk bertanggung jawab pada produksi sel darah merah dan putih. Pada orang dewasa, tulang panjang terisi oleh sum-sum lemak kuning.
2)   Macam – Macam Tulang
a)      Tulang Panjang
Merupakan tulang pada lengan, tungkai, tangan dan kaki, seperti : humerus, radius, ulna, femur, tibia, dan fibula. Batang tulang panjang disebut diafisis dan ujung tulang panjang disebut epifisis.
Diafisis disusun oleh tulang padat dan rongga kosong, yang membentuk saluran ke dalam batang tulang.
Epifisis disusun oleh tulang spongiosa yang dibungkus oleh selapis tipis tulang padat. Pada tulang panjang juga terdapat sel khusus yang disebut osteoklas. Sel-sel ini mereabsorbsi matriks tulang dipusat diafisis untuk membentuk saluran sum-sum.
b)      Tulang-tulang pendek
Perbandingan tebal dan panjang hampir sama, terdapat pada pergelangan tangan dan kaki, bentuknya seperti kubus, yaitu :
(1)      Karpal
(2)      Metakarpal
(3)      Falangus
(4)      Tarsalia
(5)      Metatarrsalia
c)      Tulang-tulang pipih
(1)   Tulang iga
(2)   Tempurung kepala
(3)   Tulang panggul
(4)   Tulang scapula/belikat
d)     Tulang-tulang tidak teratur
(1)   Tulang-tulang pada wajah
(2)   Tulang vertebra
(Valerie C., 2007)
3)   Bagian-bagian tulang
Bagian-bagian tulang menurut Syaifuddin (1997) yaitu :
a)      Foramen (lubang pada tulang)
b)      Fosa (lekuk tulang)
c)      Prosesus (taju/tonjolan tulang)
d)     Kondilius (taju bundar)
e)      Tuberkel (tonjolan kecil)
f)       Tuberositas (tonjolan besar)
g)      Trokanter (tonjolan besar pada tulang paha)
h)      Krista (tepi tulang usus)
i)        Spina (tonjolan pada tulang usus)
j)        Kaput (kepala tulang)


4)   Fungsi Tulang
Fungsi tulang menurut Syaifuddin (1997) yaitu :
a)      Memberi kekuatan pada kerangka tubuh.
b)      Melindungi organ penting.
c)      Tempat melekatnya otot.
d)     Tempat pembuatan sel darah.
e)      Memberikan bentuk pada bangunan tubuh.
b.      Fisiologi Sistem Muskuloskletal
Tulang terdiri atas matriks organik keras yang sangat diperkuat dengan endapan garam kalsium dan garam tulang.
1)      Matriks organik ini terdiri dari serat-serat kolagen dan medium gelatin homogen yang disebut substansi dasar.  Substansi dasar ini terdiri atas cairan ekstraseluler ditambah proteoglikan, khususnya kondroitin sulfat dan asam hialuronat yang membantu mengatur pengendapan kalsium.
2)      Garam-garam tulang terutama terdiri dari kalsium dan fosfat.  Rumus garam utamanya dikenal sebagai hidroksiapatit.
               Tahap awal pembentukan tulang adalah sekresi kolagen (kolagen monomer) dan substansi dasar oleh osteoblas.  Kolagen monomer dengan cepat membentuk serat-serat kolagen dan jaringan akhir yang terbentuk adalah osteoid, yang akan menjadi tempat di mana kalsium mengendap.  Sewaktu osteoid terbentuk, beberapa osteoblas terperangkap dalam osteoid dan selanjutnya disebut osteosit.
               Osteoblas dapat dijumpai di permukaan luar tulang dan dalam rongga tulang.  Lawan dari osteoblas yang membentuk tulang adalah osteoklas yang menyerap tulang dan mengikisnya. Pada pertumbuhan tulang normal, kecepatan pengendapan dan absorpsi tulang sama satu dengan lainnya, sehingga massa total dari tulang tetap konstan.  Biasanya, osteoklas terdapat dalam massa yang sedikit tetapi pekat, dan sekali massa osteoklas mulai terbentuk, maka osteoklas akan memakan tulang dalam waktu 3 minggu dan membentuk terowongan.  Pada akhir waktu ini, osteoklas akan menghilang dan terowongan itu akan ditempati osteoblas.  Selanjutnya, mulai dibentuk tulang baru.  Pengendapan tulang ini kemudian terus berlangsung selama beberapa bulan, dan tulang yang baru itu diletakkan pada lapisan berikutnya dari lingkaran konsentris (lamella) pada permukaan dalam rongga tersebut sampai pada akhirnya terowongan itu terisi semua.  Pengendapan ini berhenti setelah ada pembuluh darah yang mendarahi daerah tersebut.  Kanal yang dilewati pembuluh darah ini disebut kanal harvers.  Setiap daerah tempat terjadinya tulang baru dengan cara seperti ini disebut osteon. (Valerie C, 2007)

2.1.3             Klasifikasi Fraktur

a.         Sudut Patah
1)        Fraktur transversal adalah fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang. Fraktur ini stabil dan mudah dikontrol dengan bidai dan gips.
2)        Fraktur oblik adalah fraktur yang garis patahnya membentuk sudut terhadap tulang. Fraktur ini tidak stabil dan sulit diperbaiki.
3)        Fraktur spiral timbul akibat torsi pada ekstremitas. Jenis fraktur ini menimbulkan sedikit kerusakan jaringan lunak, dan ini cendrung cepat sembuh dengan imobilisasi luar. (Sylvia A. Price, 2003)
b.        Fraktur Multipel Pada Satu Tulang
1)        Fraktur segmental adalah dua  fraktur berdekatan pada satu tulang yang menyebabkan terpisahnya segmen sentral dari suplai darahnya. Fraktur semacam ini sulit ditangani.
2)        Kominuta adalah serpihan-serpihan atau terputusnya keutuhan jaringan dengan lebih dari dua fragmen tulang.
c.         Fraktur Impaksi
Fraktur kompresi terjadi ketika dua tulang menumbuk (akibat benturan) tulang ke tiga yang berada diantaranya, seperti satu vertebra dengan dua vertebra. Pada orang muda, fraktur kompresi dapat disertai pendarahan retroperitoneal yang cukup berat.
d.        Fraktur Patologik
Terjadi pada daerah-daerah tulang yang telah menjadi lemah oleh karena tumor atau proses patologik lainnya. Tulang sering kali menunjukkan penurunan densitas.
e.         Fraktur Beban (kelelahan) lainnya,
Fraktur beban/kelelahan terjadi pada orang-orang yang baru saja menambah tingkat aktivitas mereka, seperti baru diterima untuk berlatih dalam angkatan bersenjata atau orang-orang yang baru memulai latihan lari.
f.         Fraktur Greenstick
Merupakan fraktur yang tidak sempurna dan sering terjadi pada anak-anak. Korteks tulangnya sebagian masih utuh, demikian juga periostenumnya. Farktur ini akan segera sembuh dan segera mengalami remodeling ke bentuk dan fungsi normal.
g.      Fraktur Avulasi
Fraktur avulasi memisahkan suatu fragmen tulang pada tempat insersi tendon ataupun ligament.
Selain klasifikasi diatas, fraktur juga diklasifikasikan menjadi :
a.         Fraktur Tertutup / closed atau disebut juga “fraktur simplex” :
Fraktur yang tertutup karena integritas kulit masih utuh/tetap tidak berubah
b.        Fraktur Terbuka / open (compound fracture) :
Fraktur terbuka karena integritas kulit robek atau terbuka dan tulang ujung menonjol sampai menembus kulit (Charlene, 2001)
Menurut R. Gustillo, 2001 fraktur  terbuka terbagi atas tiga derajat , yaitu :
1)   Derajat I
a)    Luka < 1 cm
b)   Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka                                 remuk.
c)    Fraktur sederhana, tranversal, oblik, atau komunitip ringan
d)   Kontaminasi minimal
2)   Derajat II
a)    Laserasi > 1cm
b)   Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/avulasi
c)    Fraktur komunitip sedang
d)   Kontaminasi sedang
3)   Derajat III
Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan neurovaskular serta kontaminasi drajat tinggi. Fraktur drajat III terbagi atas :
a)    Jaringan yang menutupi fraktur tulang adekuat,meskipun terdapat laserasi luas/flap/avulasi : atau fraktur sagmental/sangat komunitip yang di sebabkan oleh trauma bernergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luka.
b)   Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau kontaminasi masif.
c)    Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer yang harus di perbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan lunak.
Terdapat beberapa tipe fraktur yang berat :
a.       Oblique (fraktur memiliki arah miring)
b.      Spiral (fraktur meluas yang mengelilingi tulang)
c.       Segmental (segmen tulang yang retak dan ada yang terlepas)
d.      Comminuted (mencakup beberapa faragmen)

2.1.4        Etiologi

a.              Trauma langsung/direk
Merupakan fraktur yang terjadi ditempat dimana bagian tersebut mendapat ruda paksa, contoh, benturan/pukulan pada antebrakii yang mengakibatkan fraktur
b.             Tarauma tidak langsung
Misalnya penderita jatuh dengan lengan dalam dalam keadaan ekstensi dapat terjadi fraktur pada pergelangan tangan, kolum cirurgikum humeri, suprakondiler dan klavikula
(Purnawan, 1998)

c.         Fraktur Patologik
Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut :
1)             Tumor Tulang (Jinak atau Ganas) : pertumbuhan jaringan baru yang tidak terkendali dan progresif.
2)               Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif, lambat dan sakit nyeri.
3)               Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi Vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain, biasanya disebabkan kegagalan absorbsi Vitamin  D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah.
d.        Secara Spontan
Disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran.

2.1.5        Patofisiologi

Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekeuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan. (Graham, 1993). Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. (Carpenito, 1995).
Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya.  (Black, 1993)


2.1.6 Patways





Gambar 2.2 Pathways Fraktur
2.1.7        Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur
Menurut Ignatavicius (1995) yaitu:
a.         Faktor Ekstrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung terhadap besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur.
b.        Faktor Intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan, elastisitas, kelelahan, dan kepadatan atau kekerasan tulang
c.         Biologi penyembuhan tulang
Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain, fraktur merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan jalan membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang. Tulang baru dibentuk oleh aktivitas sel-sel tulang. Ada lima stadium penyembuhan tulang, yaitu:
1)    Stadium Satu-Pembentukan Hematoma
Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur. Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast. Stadium ini berlangsung 24 – 48 jam dan perdarahan berhenti sama sekali. 
2)                           Stadium Dua-Proliferasi Seluler      
Pada stadium initerjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro kartilago yang berasal dari periosteum,`endosteum, dan bone marrow yang telah mengalami trauma. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru yang menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah. Fase ini berlangsung selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai, tergantung frakturnya.  
3)                           Stadium Tiga-Pembentukan Kallus
Sel–sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik, bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan juga kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati. Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago, membentuk kallus atau bebat pada permukaan endosteal dan periosteal. Sementara tulang yang imatur (anyaman tulang ) menjadi lebih padat sehingga gerakan pada tempat fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu.
4)        Stadium Empat-Konsolidasi
Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang berubah menjadi lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan  osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban yang normal. 
5)        Stadium Lima-Remodelling
Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang yang terus-menerus. Lamellae yang lebih tebal diletakkan pada tempat yang tekanannya lebih tinggi, dinding yang tidak dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk, dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip dengan normalnya.(Black, 1993 dan Graham,1993)


2.1.8        Tanda Dan Gejala

a.       Deformitas
Daya t
arik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya perubahan keseimbangan terjadi seperti :
1)      Rotasi pemendekan tulang
2)      Penekanan tulang
b.      Bengkak : edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur.
c.       Spasme otot spasme involunters dekat fraktur
d.      Tenderness/keempukan
e.       Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindahnya tulang dari tempatnya dan kerusakan struktur di daerah yang berdekatan.
f.       Kehilangan sensasi (mati rasa, mungkin terjadi dari rusaknya saraf/perdarahan)
g.      Pergerakan abnormal
h.      Shock hipovolemik hasil dari hilangnya darah
i.        Krepitasi : sensasi berderak yang teraba dan sering ditemukan pada tulang rawan sendi yang menjadi kasar
(Black, 1993 ).

2.1.9        Pemeriksaan Penunjang
Menurut Charlene 2001, Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada fraktur yaitu:
a.         Rontegen (Sinar X)
Hal yang harus dibaca pada x-ray yaitu:
1)         Bayangan jaringan lunak.
2)         Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik atau juga rotasi.
3)         Trobukulasi ada tidaknya rare fraction.
4)         Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi.
b.        Arthography : menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda paksa.
c.         Mylofraphy : menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma
d.        Magnetik Resonance Imaging (MRI): menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.
e.         Arthroscopy : didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma yang berlebihan.
f.          Biopsi : pemeriksaan mikroorganisme kultur yang lebih diindikasikan bila terjadi infeksi.


2.1.10    Penatalaksanaan

Penatalaksaan pada klien dengan fraktur tertutup menurut Arif Mansjoer, 2000 adalah sebagai berikut :
a.         Terapi konservatif, terdiri dari :
1)   Proteksi, untuk fraktur dengan kedudukan baik. Mobilisasi saja tanpa reposisi, misalnya pemasangan gips pada fraktur inkomplet dan fraktur tanpa kedudukan baik.
2)   Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips. Reposisi dapat dalam anestesi umum atau lokal.
3)             Traksi, untuk reposisi secara berlebihan.
b.        Terapi farmakologi, terdiri dari :
1)             Reposisi terbuka, fiksasi eksternal.
2)             Reposisi tertutup kontrol radiologi diikuti interial.
Terapi ini dengan reposisi anatomi diikuti dengan fiksasi internal.
Tindakan pada fraktur terbuka harus dilakukan secepat mungkin, penundaan waktu dapat mengakibatkan komplikasi. Waktu yang optimal untuk bertindak sebelum 6-7 jam berikan toksoid, anti tetanus serum (ATS) / tetanus hama globidin. Berikan antibiotik untuk kuman gram positif dan negatif dengan dosis tinggi. Lakukan pemeriksaan kultur dan resistensi kuman dari dasar luka fraktur terbuka.

2.1.11    Komplikasi fraktur

a)       Komplikasi Awal
1)       Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.
2)       Kompartement Syndrom
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang menekan otot, saraf, dan pembuluh darah. Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips dan pembebatan yang terlalu kuat.
3)       Fat Embolism Syndrom
Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel lemak yang dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran darah dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai dengan gangguan pernafasan, tachykardi, hypertensi, tachypnea, demam.
4)       Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
5)       Avaskuler Nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan  nekrosis tulang dan diawali dengan adanya Volkman’s Ischemia.
6)       Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.
b)       Komplikasi Dalam Waktu Lama
1)      Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena penurunan suplai darah ke tulang.
2)      Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi dan memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang.
3)      Malunion
Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik. (Black,1993)











2.2    Konsep Asuhan Keperawatan
Proses keperawatan adalah penerapan pemecahan masalah keperawatan secara ilmiah untuk mengidentifikasi masalah klien, merencanakan secara sistematis, melaksanakan serta mengevaluasi hasil tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan (Dongoes, 2000)
Asuhan keperawatan adalah proses atau rangkaian kegiatan pada praktek keperawatan yang diberikan secara langsung kepada klien di berbagai tatanan pelayanan kesehatan (Zaidin Ali, 2001).
Proses keperawatan adalah cara yang sistematis yang dilakukan oleh perawat bersama klien dalam menentukan kebutuhan asuhan keperawatan dengan melakukan pengkajian, menentukan diagnosis, merencanakan tindakan yang akan dilakukan, melaksanakan tindakan serta mengevaluasi hasil asuhan yang telah diberikan dengan berfokus pada klien (Abdul Aziz, A.H, 2004).
Di dalam memberikan asuhan keperawatan digunakan system atau metode proses keperawatan yang dalam pelaksanaannya dibagi menjadi 5 tahap, yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.



2.2.1        Pengkajian

Pengkajian keperawatan adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan kilen (Iyer et al (1996), dari buku Nursalam, 2001)
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan, untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantuang pada tahap ini,  tahap ini terbagi atas:
a.    Pengumpulan Data
1)         Anamnesa
a)       Identitas Klien
Pada umumnya umur rentan pada penderita fraktur terjadi pada usia remaja dengan usia sekitar 17 ke atas. Dan menurut data yang tertera penderita sebagian besar berjenis kelamin laki – laki.
(b)       Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri dan imobilisasi. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan:
(1)          Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi faktor presipitasi nyeri.
(2)           Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk.
(3)            Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.
(4)           Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa berdasarkan  skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya.
(5)           Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari.
(Ignatavicius, 1995)
c)      Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain.
d)     Riwayat Penyakit Dahulu
Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget’s yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung. Selain itu, penyakit diabetes dengan luka di kaki sangat beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang.
e)      Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetic.
f)       Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat .
   g)   Pola-Pola Fungsi Kesehatan
(1)     Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Pada kasus fraktur akan timbul ketakutan akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak.
(2)     Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien.
(3)     Pola Eliminasi
Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak.
(4)     Pola Tidur dan Istirahat
Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur.
(5)     Pola Aktivitas
Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain.
(6)     Pola Hubungan dan Peran
Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat karena klien harus menjalani rawat inap.
(7)     Pola Persepsi dan Konsep Diri
Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakkuatan akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image).
(8)     Pola Sensori dan Kognitif
Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan. Begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri akibat fraktur.


(9)       Pola Reproduksi Seksual
Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien. Selain itu juga, perlu dikaji status perkawinannya termasuk jumlah anak, lama perkawinannya.
(10)   Pola Penanggulangan Stress
Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu ketidakkuatan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif.
(11) Pola Tata Nilai dan Keyakinan
Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien. (Ignatavicius, 1995).
2)        Pemeriksaan Fisik
Dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis). Hal ini perlu untuk dapat melaksanakan total care karena ada kecenderungan dimana spesialisasi hanya memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi lebih mendalam.
a)        Gambaran Umum
Perlu menyebutkan:
(1)          Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda, seperti:
(a)           Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis tergantung pada keadaan klien.
(b)          Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada kasus fraktur biasanya akut.
(c)           Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk.
(2)          Pemeriksaan body of system pada klien fraktur terdiri dari:
(a)    Sistem Pernapasan (B1 : Breathing)
Ada tidaknya ditemukan ketidak mampuan menelan, batuk, hambatan jalan napas karena faktor resiko (merokok), timbulnya kesulitan dalam bernafas atau tak teratur, suara nafas terdengar ronki (aspirasi sekresi).
(b)   Sistem Sirkulasi (B2 : Bleeding)
Ada tidaknya penyakit jantung, riwayat hipotensi postural, frekuensi nadi bervariasi (karena ketidakstabilan fungsi jantung, obat-obatan, efèk stroke pada pusat vasomotor), distritmia, perubahan elektrokardiogram, hipertensi arterial sehubungan dengan embolisme /malformasi vaskuler.
(c)    Sistem Persyarafan (B3 : Brain)
Dapat ditemukan tingkat kesadaran biasanya akan tetap  sadar bila penyebabnya trombosis dan terjadi karena pada tahap awal, gangguan tingkah laku (seperti latergi, apatis, menyerang), gangguan fungsi kognitif ( seperti penurunan memori ), ekstremitas ( kelemahan / paralisis), pada wajah terjadi paralisis atau parese. Afasin (gangguan atau kehilangan fungsi bahasa). Kehilangan kemampuan menggunakan motorik, kejang, ukuran pupil tidak sama, sinkope, kelemahan/kesemutan/kebas, gangguan rasa pengecapan dan penciuman.


(d)   Sistem Perkemihan ( B4 : Bledder )
Perubahan pola berkemih, seperti inkontinensia urine, anuria, distensi abdomen ( distensi kandungan kemih berlebihan ), bising usus negatif ( Hens Paralitik ).
(e)    Sistem Pencernaan ( B5 : Bowe l)
Napsu makan hilang, kehilangan sensasi (rasa kecap) pada lidah, pipi dan  tenggorokan, disfagia kesulitan menelan ( gangguan pada refleksi platum dan faringeal), adanya riwayat diabetes, peningkatan lemak dalam darah.
(f)    Sistem Muskoluskletal (B 6 : Bone)
Gangguan tonus otot, paralitik (hemiplegia) dan  terjadi kelemahan umum hilangnya rangsangan sensorik kontralateral ( pada sisi tubuh yang berlawanan) pada ekstremitas yang disebabkan oleh fraktur dan kadang pada ipsilateral (yang satu sisi) pada wajah. (Doengoes 2000)
b)        Keadaan Lokal
Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama mengenai status neurovaskuler.

Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal menurut Soelarto (1995) adalah:
(1)          inspeksi
Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain:
(a)           Cictriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas operasi).
(b)          Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi.
(c)           Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa (abnormal).
(d)          Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas)
(2)          palpasi
Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien.
Yang perlu dicatat adalah:
(a)           Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit.
(b)          Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau oedema terutama disekitar persendian.
(c)           Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3 proksimal,tengah, atau distal).
Otot: tonus pada waktu relaksasi atau kontraksi, benjolan yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka sifat benjolan perlu dideskripsikan permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar atau  permukaannya, nyeri atau tidak, dan ukurannya.
(3)       Move (pergerakan terutama lingkup gerak)
Setelah melakukan pemeriksaan feel, kemudian diteruskan dengan menggerakan ekstrimitas dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan lingkup gerak ini perlu, agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya. Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat, dari tiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dalam ukuran metrik. Pemeriksaan ini menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau tidak. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan pasif, (Soelarto, 1995)
3)        Pemeriksaan Laboratorium
a)      Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
b)      Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang.
c)      Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase  (LDH-5), Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
(Ignatavicius, 1995)

2.2.2        Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinik mengenai respon individu (klien dan masyarakat ) tentang masalah kesehatan aktual atau potensial sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan dengan kewenangan perawat (NANDA).
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respons manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah, dan merubah (Lynda Juall Carpenito, 2000)
Diagnosa keperawatan menurut L.J. Carpenito (2000) dapat dibedakan menjadi 5 kategori :Aktual, Resiko, Kemungkinan, Wellness dan Sindrom.
a.         Aktual yaitu menjelaskan masalah nyata saat ini sesuai dengan data klinik yang ditentukan. Syarat untuki menegakkan diaknosa keperawatan actual harus ada unsue PES. Symptom harus memenuhi criteria (80%-100%) dan sebagian kriteria minor dari pedoman diagnosa NANDA.
Misalnya, ada data : Muntah, Diare, dan turgor jelek selama 3 hari
Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan kehilangan cairan secara abnormal (Tarwoto Wartonah, 2000)
b.        Resiko yaitu menjelaskan maslah kesehatan yang nyata akan terjadi jika tidak dilakukan intervensi. Syarat untuk menegakkan resiko adalah adanya unsure PE (problem dan etiologi). Penggunaan resiko dan resiko tinggi tergantung dari tingkat keparahan/kerentangan terhadap maslah.
Contoh : Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan diare yang terus menerus.
c.         Kemungkinan yaitu menjelaskan bahwa perlu adanya data tambahan untuk memastikan masalah keperawatan kemungkinan.
Contoh : Kemungkinan gangguan konsep diri : rendah diri/terisolasi berhubungan dengan diare.
d.        Wellness (sejahtera) adalah keputusan klinik tentang keadaan individu, keluarga, dan atau masyarakat dalam transisi dan tingkat sejahtera tertentu ke tingkat sejahtera lebih tinggi.kategori Wellness tidak mengandung unsure “factor yang berhubungan”.
Ada 2 kunci yang harus ada :
1)        Sesuatu yang menyenangkan pada tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi
2)        Adanya status dan fungsi yang efektif.
Contoh : Potensial peningkatan hubungan dalam keluarga
Hasil yang diharapkan meliputi :
a)         Makan pagi bersama selama 5 hari/minggu
b)        Melibatkan anak dalam pengambilan keputusan keluarga
c)         Menjaga kerahasiaan setiap anggota keluarga.
 Diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan fraktur adalah sebagai berikut:
a.         Nyeri akut berhubungan dengan  agen cedera fisik
b.        Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan muskuloskletal
c.         Resiko Infeksi berhubungan dengan tidakadekuatnya pertahanan perifer

d.        Kurang pengetahuan tentang kondisi berhubungan dengan salah interpretasi informasi. (L.J. Carpenito, 2000)

2.2.3        Rencana Tindakan Keperawatan

Rencana keperawatan adalah pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang ditentukan pada diagnose keperawatan (Iyer et all (1996), dari buku Nursalam, 2001).
Rencana keperawatan adalah sebagai suatu dokumen tulisan tangan dalam menyelesaikan masalah, tujuan, dan intervensi. (Nursalam, 2001).
a.       Menentukan prioritas
Berbagai cara dalam memprioritaskan masalah diantaranya :
1)      Berdasarkan Hirarki Maslow yaitu fisiologis, keamanan/ keselamatan, mencintai dan memiliki, harga diri, dan aktualisasi diri.
2)      Berdasarkan Griffth – Kenney Chriestensen dengan urutan :
a)    Ancaman kehidupan dan kesehatan
b)        Sumber dana dan daya yang tersedia
c)        Peran serta klien
d)       Prinsip ilmiah dan praktik keperawatan


b.      Menentukan kriteria hasil
Hal - hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan kriteria hasil adalah konsep SMART, yaitu :
S     : Specifik (harus spesifik dan tidak menimbulkan arti ganda)
M    : Measurable (keperawatan harus dapat diukur, khususnya tentang prilaku klien : dapat dilihat, didengar, diraba, dirasakan, dan dibau)
A    : Archiveable (harus dapat dicapai)
R    : Reasonable (tujuan harus dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah)
T     : Time (waktu tindakan keperawatan)


Tabel, 2.1 Rencana Tindakan Keperawatan
NO
DIAGNOSA KEPERAWATAN
KRITERIA HASIL
INTERVENSI
RASIONAL
1
2
3
4
5

1


















1

Nyeri akut berhubungan dengan  agen cedera fisik
















2

Setelah dilakukan tindakan keperawatan rasa nyaman (nyeri) dapat dapat teratasi dengan kriteria hasil :
1.Rasa nyeri hilang
2.Menunjukkan tindakan santai, mampu berpartisipasi dalam aktivitas
3.Menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas

3

1.    Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga


2.    Kaji tingkat intensitas dan frekwensi nyeri



3.    Jelaskan pada klien penyebab nyeri




4

1.   Hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif

2.   Tingkat intensitas nyeri dan frekwensi menunjukkan skala nyeri
3.   Memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien akan nyeri.
5































































4.    Observasi tanda-tanda vital


5.  Ajarkan penggunaan teknik manajemen nyeri (relaksasi dan distraksi)



6.  Pertahankan imobilisasi pada bagian yang patah




7.    Lakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesic

4.   Untuk mengetahui perkembangan klien
5.   Mengalihkan perhatian terhadap nyeri, meningkatkan kontrol terhadap nyeri yang mungkin berlangsung lama.
6.   Mengurangi keluhan nyeri dan mencegah perubahan tentang atau perlakuan jaringan oleh tulang
7.   Merupakan tindakan dependen perawat, dimana analgesic berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri

2


Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan muskuloskletal


Setelah dilakukan tindakan keperawatan, kerusakan mobilitas fisik dapat teratasi dengan kriteri hasil :
1.Klien mampu meningkatkan atau mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi.


1.   Kaji tingakat kekuatan otot dan ketidak mampuan gerak serta jelaskan tentang immobilisas




2.  Bantu klien untuk berlatih ROM pasif dan aktif




1.     Untuk mengetahui ketidak mampuan gerak klien, pemberian informasi menimbulkan sikap kooperatif.
2.     Peningkatan aliran darah keotot dan tulang akan meningkatkan tonus otot  
1
2
3
4
5





























































2.Klien mampu mempertahankan posisi fungsional, mampu meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh,
3.Klien  menunjukkan tehnik yang memampukan melakukan aktivitas.














3.  Jelaskan pada klien bahwa rain berlatih makin baik dan membantu mempercepat penyembuhan.
4.  Anjurkan untuk bepartisifasi dalam kegiatan sesuai dengan kemampuan



5.  Bantu klien dalam perwatan diri seperti mandi dan sikat gigi







dan syaraf cepat pulih
3.Rehabilitasi dinilebih baik, fungsi otot cepat pulih



4. Mengikut sertakan klien, menambah rasa percaya diri dan mau mempergunakan fungsi tuguhn
5. Meningkatkan ketegangan otot,  sirkulasi dan meningkatkan rasa sehat pada diri sendiri

3

Resiko Infeksi berhubungan dengan tidakadekuatnya pertahanan perifer


Setelah dilakukan tindakan keperawatan resiko infeksi dapat teratasi dengan kriteria hasil :
1.    Tanda infeksi tidak ada.
2.    Tidak terjadi pembengkakan sekitar fraktur.
3.    Demam tidak terjadi.
4.    Vital sign dalam batas normal.

1.  Pantau tanda-tanda vital




2.  Lakukan perawatan terhadap prosudur inpasif seperti infuse, dan kateter
3.  Pantau tanda-tanda infeksi



1.  Mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu meningkat
2.  Untuk mengurangi resiko infeksi nasokomial


3.   Menemukan tanda infeksi sedini mungkin

1
2
3
4
5







4.    Kolaborasi untuk pemberian antibiotic

4.  Antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme pathogen.


4


Kurang pengetahuan tentang kondisi berhubungan dengan salah interpretasi informasi



Setelah dilakukan tindakan keperawatan, kurang pengetahuan tentang kondisi dapat teratasi dengan kriteria hasil :
-      klien mengerti dan memahami tentang penyakitnya.
-      klien kooperatif dalam tindakan selanjutnya



1.   Dorong semangat klien untuk mengungkapkan masalah akibat penyakit yang dideritanya


2.   Dengarkan keluhan klien dan keluarganya dengan baik.



3.   Jelaskan tanda-tanda kemajuan dalam perawatan dan pengobatan.



4.   Berikan informasi yang akurat tentang penyakitnya.

5.   Anjurkan klien dan keluarga untuk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan dan senantiasa berdoa


1.     Identifikasi masalah dan usaha pemecahannya bersama klien dan keluarga

2.     Menjadi pendengar yang baik adalah salah satu inti ubungan terapeutik
3.     Membina hubungan saling percaya dan memberikan rasa aman klien
4.     Menambah pengetahuan dan prilaku kooperaratif.

5.     Untuk meringankan perasaan cemas yang dihadapi
( M.E. Dongoes, 2000 )

2.2.4        Tindakan Keperawatan

Pelaksanaan merupakan tahap keempat dari proses keperawatan dimana perencanaan dimasukan dalam tindakan selama fase implementasi, ini merupakan fase kerja aktual dari proses keperawatan (Dongoes, 2000)
Pelaksanaan tindakan keperawatan adalah pelakasanaan tindakan yang telah ditemukan dengan mekanisme agar kebutuhan klien terpenuhi secara optimal. Pelaksanaan keperawatan merupakan realisasi dari rencana keperawatan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan klien akan keperawatan dengan melaksanakan kegiatan sesuai yang direncanakan.
Tindakan keperawatan dapat dilaksanakan oleh perawat secara mandiri,semua tindakan yang telah dilakukan dicatat dalam catatan tindakan perawatan klien, guna mengetahui sejauhmana rencana-rencana perawat telah dilakukan, setelah itu perawat mengobservasi klien terhadap tindakan yang dilakukan,(L.J. Carpenito, 1998).

2.2.5        Evaluasi Keperawatan

Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. Melalui evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor ”kealpaan” yang terjadi selama tahap pengkajian, analisa, perencanaan, dan pelaksanaan tindakan (Ignatavicius & Bayne, (1994), dari buku Nursalam, 2001)
Ada 2 komponen untuk mengevaluasi kualitas tindakan keperawatan, yaitu :
a.       Proses (formatif)
Fokus evaluasi ini adalah aktifitas dari proses keperawatan dan hasil kualitas pelayana tindakan keperawatan. Evaluasi proses keperawatan dilaksanankan segera setelah perencanaan keperawatan dilaksanakan untuk membantu keefektifitasan terhadap tindakan.
b.      Hasil (sumatif)
Fokus evaluasi hasil adalah perubahan prilaku atau status kesehatan klien. Tipe evaluasi ini dilaksanakan pada akhir tindakan keperawatan secara paripurna. (Nursalam, 2001)